Peran Muslimah dalam Membangun Mental dan Karakter Bangsa Indonesia


Dimulai dari sesuatu yang indah ketika kita membayangkan kesempurnaan muslimah dari sosok bunda Khadijah yang keibuan, sosok cerdas dan kritis penuh tanya Aisyah ra., dan sosok para shahabiyah-shahabiyah lain di masa Rasulullah. Mereka adalah bintang-bintang peradaban yang pesonanya tak pernah pudar untuk memberikan sinar tauladannya masing-masing kepada para muslimah akhir zaman ini.
Mempelajari kisah perjuangan dari para sosok-sosok shahabiyah yang luar biasa tersebut, kita mendapatkan beragam tauladan peran yang mengagumkan untuk dijadikan sebagai sumber referensi utama dalam membangun peran kebermanfaatan seorang muslimah. Karena hadirnya shahabiyah-shahabiyah yang cemerlang pada masa Rasulullah Muhammad SAW, membuktikan ruang gerak muslimah berperan dalam pengembangan peradaban Islam.
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain”, begitulah Rasulullah mengajarkan umatnya termasuk para muslimah untuk menjadi pribadi yang senantiasa menebar kebaikan dimanapun dia berada. Segala potensi yang melekat pada diri muslimah bisa menjadi pintu kebaikan. Tidak hanya harta, tapi juga ilmu dan  ketrampilan, bahkan senyuman motivasi seorang muslimah dapat menjadi kebaikan bagi saudaranya yang lain jika dilakukan dengan niat yang bersih dan benar hanya karena Allah SWT.
Islam memberikan ruang yang istimewa bagi muslimah, dimana peranan muslimah menjadi sangat penting tidak hanya dalam lingkup keluarga, namun juga dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara dan tentunya dalam pengembangan umat. Ruang gerak muslimah yang cukup luas memberikan peluang yang cukup besar bagi sosok muslimah untuk giat dalam mengembangkan potensi diri dan berprestasi.
Seorang muslimah mempunyai dua peran yang harus dijalani secara bersamaan dalam memfungsikan kebermanfaatannya dalam menebar cahaya-cahaya kebaikan yakni:
1. Peran domestik
Peran domestik muslimah teraplikasi di internal keluarga sebagai sosok istri dan seorang ibu yang melakukan peran untuk tugas-tugas tak tergantikan pada perempuan yakni terkait dengan fungsi reproduksi, dari mulai mengandung, melahirkan, hingga menyusui. Selain itu tugas utama perempuan muslimah dalam tugas-tugas domestik ini yaitu pada pendidikan anak-anak (bekerja sama dengan suami) dan berbakti kepada suaminya.
Tak ada pengarahan khusus dalam Islam, bahwa perempuan bertugas mengerjakan pekerjaan seperti mencuci piring, mencuci baju, mengepel dan lain-lain. Hal ini pada prinsipnya merupakan tugas bersama dan bahkan menjadi bagian perhatian yang mesti diperhatikan suami dalam pemenuhan nafkah kepada keluarga.
2. Peran publik
Peran publik sosok muslimah adalah keaktifannya dalam bidang-bidang sosial dalam rangka tugas ‘amar ma’ruf nahi munkar yang Allah perintahkan dalam titah firman-Nya “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (AS. At-Taubah : 71).
Dalam firman-Nya tersebut Allah menyebutkan bahwa kaum muslimah itu bersama-sama kaum lelakinya memikul tugas tugas dakwah. Tugas ini mencakup segenap tugas untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran dan menghilangkan praktek-praktek keburukkan di tengah masyarakat. Hal tersebut merupakan kesempatan bagi muslimah untuk mengisi berbagai aktifitas sosial kemasyarakatan mulai dari aktifitas dalam lingkup terkecil, misalnya di lingkungan RT hingga lingkup kenegaraan. Dari mulai masalah pendidikan, kesehatan, hingga masalah ekonomi politik. Dari mulai kerja-kerja sosial seperti menyantuni anak yatim, mengadakan bazar murah bagi mereka yang kurang mampu hingga advokasi urusan perempuan di forum-forum legislatif dan yudikatif atau penegakkan kebijakan-kebijakan pemberdayaan perempuan lewat kekuasaan eksekutif.
Terbukanya medan-medan beramal sosial bagi muslimah seluas permasalahan kehidupan yang dihadapi masyarakat. Dan untuk memikul tugas yang disebutkan di atas, kaum perempuan harus menggali dan menekuni berbagai ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dan keterampilan yang mesti ditekuni amat luas, meliputi bidang kesehatan: ilmu-ilmu lingkungan (termasuk desain dan arsitektur), gizi dan makanan, kesehatan masyarakat, kedokteran, farmasi, dll.; bidang pencerdasan masyarakat: ilmu-ilmu kesenian, sastra, psikologi, komunikasi, pendidikan, teknologi informasi serta bidang advokasi dan legislasi yaitu: ilmu-ilmu sosial, hukum, politik, hubungan internasional dll.
Sebuah batasan penting pada peran publik muslimah adalah mereka beraktifitas di dunia profesionalnya tidak untuk mencari nafkah, namun peran-peran publik tersebut adalah sebuah bagian dari agenda-agenda perubahan umat. Dan konsep peran publik muslimah ini tidaklah sama dengan konsep women liberation atau gerakan-gerakan feminis yang bermunculan di Barat yang menuntut persamaan dalam segala hal dengan kaum lelaki, yang berefek pada keruntuhan institusi keluarga akibat terbengkalainya semua urusan-urusan rumah tangga karena kelalaian seorang istri yang tidak mampu berperan sebagai kepala rumah tangga.
Untuk menyeimbangkan kedua peran tersebut seorang muslimah harus mampu mengelola manajemen waktu dan manajemen kegiatannya dengan baik, termasuk keterampilan memilih prioritas kegiatan secara seksama. Dalam hal ini diperlukan ketegasan dalam menerima atau menolak peran sosial dengan mempertimbangkan beban tugas rumah tangga.  Selain itu diperlukan juga manajemen rumah tangga dalam bentuk kerja sama suami-istri. Ketika seorang muslimah melakukan aktifitas publiknya, maka ia mesti memperoleh ijin dari penanggung jawab dirinya dan memastikan bahwa semua urusan peran domestiknya telah tuntas.
Kedua peran muslimah diatas bukan untuk dipilih salah satunya saja, namun kedua peran tersebut harus dijalani dengan baik sehingga keberadaan muslimah mampu memberikan sebuah kontribusi untuk membangun mental dan karakter bangsa melalui perannya di ranah domestik dan publik. Dalam setiap masanya sosok muslimah diharapkan menjadi lentera-lentera benderang yang menerangi peradaban Islam tidak hanya bagi keluarganya namun juga bagi masyarakat, negara, dan umat dengan berbagai kontribusinya melalui kemampuan dan kecerdasannya dalam membermanfaatkan segala potensinya. Wa Allahu a’lamu bish shawwab.

Referensi
  • Muslimah, Pesona Muslimah Cerdas, 2011, PW SALIMAH Jawa Timur
  • Jujunan, Adi.  Muslimah: Keseimbangan Peran Rumah Tangga dan Peran Sosial. 2010. http://adijm.multiply.com/journal/item/120
Penulis adalah mahasiswa Pendidikan Matematika UAD yang saat ini masih terlibat aktif sebagai Ketua Departemen KP KAMMI Komisariat Ahmad Dahlan

| | Read More »

Jilbab Akan Senantiasa Memuliakanmu Saudariku

Maha Suci Allah yang tidak pernah keliru di dalam merencanakan segala sesuatu. Skenario yang diciptakannya sangat sempurna, tidak terdapat cacat sedikitpun. Setiap risalah yang Dia turunkan kepada umat manusia senantiasa selaras dengan fitrahnya sehingga sungguh tidak masuk akal ketika terdapat penentangan atau mosi tidak percaya yang ditujukan kepada kalam-Nya yang suci. Satu hal yang perlu diketahui bahwa semua aturan yang diciptakan oleh-Nya dilandasi oleh rasa yang merupakan perpaduan antara cinta, kasih sayang, kelembutan, dan perhatian-Nya. Perlakuan-Nya yang indah untuk hamba-hambaNya ini tidak terdikotomikan oleh hal apapun, pun dalam masalah jilbab. Sungguh luar biasa Allah, telah memberikan aturan yang apabila dicermati, maka aturan tersebut justru akan semakin meningkatkan derajat wanita. Aturan itu adalah bagaimana wanita harus menutupi auratnya.
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri orang-orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal sehingga mereka tidak diganggu.” – (Al-Ahzab: 59)
Penggalan ayat di atas merupakan salah satu bentuk kasih sayang Allah untuk kaum Hawa. Paras yang rupawan dan penampilan yang dapat menimbulkan ketertarikan merupakan sunnatullah yang terdapat di dalam diri kaum wanita. Keindahan yang Allah berikan secara khusus kepada wanita ini dapat menimbulkan fitnah dan bencana apabila diletakkan di tempat yang salah. Di zaman Jahiliyyah dahulu, banyak sekali wanita yang dilecehkan bak binatang. Hal tersebut terjadi karena wanita yang tidak pandai menjaga auratnya dengan baik. Perintah berjilbab justru bentuk perhatian Allah pada kaum Hawa agar kaum Hawa terhindar dari pelecehan dan perlakuan kurang senonoh.

Di zaman kekhalifahan Abbasiyah, Khalifah al-Mu’tashim menunjukkan pada dunia saat itu bahwa betapa Islam sangat meninggikan kedudukan seorang wanita. Izzah yang ditunjukkan oleh al-Mu’tashim saat itu sangat terasa, bahkan membuat pihak kawan dan lawan segan terhadapnya. Dikisahkan ada seorang wanita yang roknya sengaja dikaitkan pada paku oleh seorang Romawi sehingga membuat aurat wanita tersebut tersingkap saat ia hendak beranjak berdiri. Wanita tersebut tidak menerima perlakuan seperti itu kemudian ia melaporkan hal tersebut kepada khalifah. Mendengar wanita tersebut dilecehkan seperti itu, khalifah dengan segera mengumpulkan pasukan untuk menyerang Romawi. Hal yang membuat siapapun gemetar kala itu adalah pasukan yang al-Mu’tashim kirim sangat banyak jumlahnya, bahkan tidak terputus sejak pintu luar istana hingga masuk daerah kekuasaan Romawi. Semua itu dilakukan oleh al-Mu’tashim hanya karena ia tidak ingin melihat kemuliaan wanita yang seharusnya terselimuti jilbab itu terampas secara hina. Subhanallah.

Kecantikan fisik pada wanita merupakan sebuah harta yang sangat berharga karena Allah sendiri yang mengistilahkan bahwa aurat wanita adalah perhiasan. Perhiasan wanita ini akan sangat tinggi nilainya manakala keotentikan serta keindahannya tetap dijaga dan dilindungi. Semakin baik seorang wanita menjaga perhiasannya, semakin mulia pula kedudukan seorang wanita. Kecantikan ini juga merupakan salah satu nikmat dan anugerah yang diberikan Allah untuk kaum wanita. Oleh karena itu, salah satu bentuk syukur atas nikmat ini adalah dengan cara menjaga perhiasan itu dengan baik. Proses menjaganya pun tidak hanya sekedar menjaga, namun dengan cara yang disukai Allah. Allah berfirman,
“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya” – (An-Nur: 31)
Ayat tersebut menekankan 2 hal tentang jilbab :
  1. Larangan untuk menampakkan perhiasan (aurat) kecuali yang boleh tampak
  2. Perintah untuk menjulurkan jilbab hingga ke dada
Rasulullah menegaskan batasan bagian tubuh wanita yang boleh tampak di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu anha,
“Dari Aisyah RA, bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasulullah dengan pakaian yang tipis, lantas Rasulullah berpaling darinya dan berkata : Hai Asma, sesungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haidh (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini (sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan)” (HR. Abu Daud dan Baihaqi)
Dengan tertutupnya aurat dengan jilbab, wanita tidak akan  terjerumus menjadi media bagi setan untuk menggoda dan melecehkan akhlaq manusia dan nilai-nilai kemanusiaan. Pakaian yang sesuai dengan anjuran Allah akan melindungi pemakainya dari godaan setan dimanapun ia berada. Bagi wanita yang memakai jilbab, pada umumnya dapat merasakan adanya semacam pengingat diri untuk tidak melakukan hal-hal yang terlarang dan dicela oleh syara. Dengan kata lain, jilbab dapat dikategorikan sebagai pengontrol perilaku wanita guna menyelamatkan kehormatan dirinya dari berbagai macam godaan setan.

Hal terakhir yang menjadi buah manis dari pengenaan jilbab sadar ataupun tidak adalah bertambahnya level kecantikan. Tidak hanya terlihat cantik di mata manusia, namun terlihat elok juga di mata Allah. Tiada kebahagiaan yang paling indah dirasa selain terlihat mulia di mata Allah hingga Allah secara pribadi mengeluarkan pujian indah-Nya. Kedudukan yang tinggi di mata Allah akan menjadikan kedudukan di mata manusia menjadi tidak berarti sama sekali. Oleh karena itu, sungguh beruntung bagi wanita yang mendapatkan lirikan khusus dari Allah karena kerendahan hatinya untuk tunduk patuh pada anjuran yang telah Allah tawarkan dalam mengenakan jilbab.

Berbahagialah bagi wanita yang telah rapi dalam mengenakan jilbabnya. Ketenangan hati, perlindungan khusus dari Allah, kemuliaan di mata manusia dan di mata-Nya, nikmat yang melimpah, jiwa yang bersih, petunjuk dan hidayah-Nya yang mahal, dan syurga-Nya yang indah insya Allah akan ia dapatkan manakala wanita mengindahkan anjuran yang Allah tawarkan ini.

Semoga Allah senantiasa merahmati dan memuliakan kedudukan wanita yang senantiasa menjaga dirinya dengan menutupi tubuhnya dengan jilbab yang dianjurkan-Nya.
Wallahu’alam bisshawab

Oleh: Fauzi Achmad Zaky, Cimahi

| | Read More »

Lisan Perempuan Dalam Islam

    Ketika perempuan tak mampu lagi mengendalikan lisan.
    Dimanapun selalu membicarakan kesia-siaan.
    Maka imanlah yang dibutuhkan. Hingga lisan selalu dalam kebaikan.

Rara termenung di sudut musholla kantor tempat ia bekerja. Di depannya ada Nena yang menangis sesenggukan. Benar kata orang, lidah perempuan lebih panjang daripada tali. Terbukti cerita murahan itu sudah menyebar, bukan hanya di divisi tempatnya bekerja, tetapi teman dari divisi lain pun menanyakan kepada Rara tentang masalah yang sedang dialami Nena. Entah kabar burung dari siapa yang membuatnya. Rara sendiri terkaget, ketika seorang teman bertanya padanya, apa benar Nena menjalin hubungan super spesial dengan si “x” dari Kepala Divisi lain. Bahkan Nena dituduh telah melangsungkan pernikahan diam-diam dengan si “x” tersebut. Awalnya Rara mencoba menenangkan Nena dengan tidak usah menggubrisnya. Karena memang hubungan Nena hanya sebatas rekan kerja saja dan menghormati beliau yang memang atasan Nena. Dan Nena tak mau terjadi hal yang tak diinginkan dengan keluarga mereka. Nena sadar bahwa ia yang belum menikah harus menjaga harga dirinya sebagai seorang muslimah, maka Nena berusaha menjelaskan kepada beberapa orang bahwa kabar itu tidak benar. Kedekatan mereka hanya sebatas satu tim dalam proyek yang mereka tangani. Dan mereka dengan 14 orang lainnya dalam 1 tim, bukan hanya mereka berdua saja. Sedangkan Nena juga tak ingin keluarga terutama istri beliau juga mengkhawatirkan keadaan suaminya yang tiba-tiba difitnah dengan cerita murahan ini. Sampai suatu ketika bukan hanya di tempat kerja saja cerita bohong ini disebarkan, bahkan pengajian yang Nena ikuti juga membicarakannya. Ternyata teman sepengajian Nena punya sepupu yang satu kantor dengannya.

Rara prihatin melihat sesosok mungil didepannya. Nena yang semakin kurus, karena memikirkan tuduhan orang-orang terhadap dirinya, dan membuatnya tak berkonsentrasi bekerja. Rara bingung kenapa teman-teman pengajian pun ikut membicarakannya, padahal seharusnya akhlaq mereka lebih terjaga. Ah, seharusnya perempuan lebih sadar untuk menjaga lisan, karena jika lisan tak terarah, berapa banyak  lagi hati yang tersakiti.

Sedikit analisis sederhana tentang awal mula hobi ber-ghibah para perempuan di masa kini. Mungkin sebelum era para perempuan berkarir di kantor, baik perempuan yang masih berstatus lajang atau sudah berkeluarga, kebanyakan dari mereka hanya beraktivitas di rumah, maka untuk menghibur diri dan mengusir rasa bosan, mereka memutuskan untuk keluar rumah lalu memulai membahas  topik pembicaraan dengan tetangga. Jika ditilik dari masa lalu, seharusnya perempuan jaman sekarang sibuk bekerja, mengurusi keluarga dan belum lagi banyak tuntutan dari dunia pendidikan agar anak mereka diperhatikan secara khusus, maka  perempuan jaman sekarang akan sibuk  mengurusi dunianya hingga tak ada waktu mengurusi “dapur” orang lain.

Ternyata bukan hanya infotainment yang sibuk membicarakan urusan atau kehidupan pribadi orang lain. Disekitar kita pun, banyak perempuan yang sibuk mengorek masalah orang lain. Ada yang cukup disampaikan saja, atau malah dikurangi dan ditambahi dari keadaan yang sebenarnya.

Kenyataan yang dihadapi saat ini, banyak perempuan yang lebih peduli dengan urusan pribadi orang lain, sibuk mengoreksi masalah orang lain daripada instropeksi diri sendiri atau keluarga yang seharusnya dia perbaiki. Memang tidak semua perempuan memiliki pribadi yang “minus” terebut, namun maraknya rating infotainment yang memasuki peringkat teratas dan kebanyakan penontonnya kaum perempuan, maka patutlah dikoreksi lagi hobi ber ghibah para perempuan ini. Lalu dengan segala kerendahan hati, mengkoreksi diri adakah kita termasuk di jajaran para perempuan yang meramaikan tontonan infotainment? Ataukah termasuk dari para perempuan yang ada di deretan ibu-ibu rumpi yang membahas aib orang lain, atau malah  mengunakan jam kerja dan beribadah dengan membahas si “ini-itu” yang jelas kurang bermanfaat?

Berikut beberapa aktivitas yang insyaAllah dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan “bad habit” dalam diri perempuan agar tak terjebak dosa lisan.



Teman dan Lingkungan

Banyak perempuan yang berubah karena teman dekat. Berubah dalam artian kebaikan atau sebaliknya. Perlu diingat teman yang baik adalah yang mengingatkan ketika akan ke terpeleset ke sebuah kesalahan dan akan menolong ketika terjatuh ke sebuah lubang kesalahan. Tak jarang pula, orang akan menilai kita dengan melihat teman dekat kita, maka berhati-hatilah dalam memilih teman dekat, agar kita dapat saling berbagi dalam kebaikan dan belomba–lomba untuk kemanfaatan.

Jangan lupa bahwa  perempuan harus peka terhadap lingkungan. Memfilter lingkungan mana yang harus disinggahi. Jika lingkungan tersebut kurang layak untuk disingggahi maka kewajiban kita untuk melayakkan lingkungan sehingga lingkungan tersebut menjadi ladang amal kita dalam berkebaikan.



Dengan Iman, Kita Berteman

Iman menata kehidupan seorang perempuan menjadi lebih baik. Dengan iman, seorang perempuan menjaga harga dirinya. Mulai dari dalam hal pergaulan, baik dengan sesama perempuan atau lawan jenis, sampai dalam memilih topik pembicaraan agar nantinya topik tersebut tidak melibatkan aib orang lain atau malah aib kita sendiri yang kita ‘obral’ untuk konsumsi publik.

Hanya dengan iman, silaturrahim karena Allah dapat terbingkai. Karena keimanan membuat seorang perempuan bertenggang rasa kepada sesama, sehingga lisan tak sampai menyakiti orang lain dan menimbulkan prasangka buruk terhadap diri kita.

    “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. (QS. Al Hujurat : 12)



Gunakan Waktu, Untuk Kemanfaatan

Banyak tali persaudaraan tak berjalan dengan baik hanya karena lisan. Membicarakan orang lain, menanggapi “katanya” orang lain sampai waktu pun tersita memikirkan hal tersebut, pikiran pun lelah dibuatnya, waktupun terbuang percuma. Pertengkaran kecil dan kesalahpahaman seringkali terjadi akibat lisan yang tak terjaga yang akhirnya memicu prasangka buruk dalam hubungan persaudaraan tersebut.

Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, perempuan harus pandai mengisi waktu.  Saling menanamkan semangat untuk menggali ilmu pengetahuan agar para perempuan menggunakan waktunya dengan cerdas sehingga banyak yang menuai sebuah manfaat dari kita, karena hanya dengan ilmu waktu tak terbuang sia sia.

Waktu tak akan mampu mengembalikan kita ke masa lalu, supaya kita tidak lagi melakukan kesalahan tersebut. Tapi kita mempunyai “hari ini” untuk memperbaiki masa lalu hingga tak ada lagi sesal yang terulang.

    Dan Pepatah mengatakan, “ ingin tahu pribadi anda, maka bercerminlah kepada teman dekat anda”.
    Maka, jadilah pribadi yang baik sehingga diripun pantas menjadi cerminan untuk sesama perempuan.

Dikutip dari : Fimadani.com

| | Read More »