Ada Apa Setelah Ramadhan?

Suatu hari, sang singa yang menyembunyikan kukunya, Sa’ad ibn Abi Waqqash, meminta sesuatu yang istimewa kepada Rasulullah. “Ya Rasulallah.. do’akanlah pada Allah agar do’a-do’aku ini mustajab..”, demikian pinta sahabat yang dijanjikan surga ini kepada Rasulullah. Sebuah pinta yang amat cerdas, permintaan yang sesungguhnya menjadi permintaan bagi tiap-tiap manusia yang berdo’a pada Tuhan. Permintaan yang membuat harap seorang hamba selalu terjaga menegakkan optimismenya. Terpujilah Sa’ad ibn Abi Waqqash atas iman dan amalnya kepada Allah yang membuat kemurnian pintanya.

Rasulullah yang sangat mencintai Sa’ad tak langsung mengiyakan pinta itu. Ada satu syarat yang Rasulullah berikan untuk sahabat yang sudah dianggap sebagai pamannya ini. Syarat ringan jika dibanding dengan permintaannya. “Wahai Sa’ad, bantulah aku dengan memperbaiki makananmu… bantulah aku dengan memperbaiki makananmu…”. itu lah syarat ringan dari Rasulullah.

Pada hari yang lain, seperti yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya, Rasululllah berkata kepada Rabi’ah bin Ka’ab Al Islami, “Mintalah!” Rasulullah yang agung menawarkan permintaan kepada sahabat yang sedang menyiapkan air wudhu dan kebutuhan Rasul yang lain. Lalu apakah hal yang diminta sahabat mulia ini? Ternyata kesucian hatinya membuahkan jawaban yang sangat mulia, “Aku minta kepadamu agar dapat menemanimu di surga”. Cerdas dan Mulia! Bayangkan saja kawan, apalagi kenikmatan selain membersamai Rasulullah di surga. Jangan kau lupa kawan, surga bagi Rasulullah adalah surga dengan tingkatan tertinggi, Surga Firdaus.

“Tidak ada permintaan lain?” tawaran berikutnya Rasul berikan kepada Rabi’ah bin Ka’ab Al Islami. “Itu saja”, jawab Rabi’ah bin Ka’ab dengan lembut mencukupkan diri dengan satu pintanya itu. Ternyata, Rasul pun memberikan sebuah syarat pada permintaan ini. “Bantulah aku dengan banyak sujud”. Lagi-lagi, syarat yang ringan jika dibanding dengan permintaannya.

Menjaga Makanan dan Sujud

Adakah dua aktivitas ini sudah umum terdengar oleh kita? Dua aktivitas tersebut pada hakikatnya adalah shaum dan shalat. Menjaga apa-apa yang menjadi makanan kita sekaligus menahan segala hawa nafsu lainnya adalah ibadah yang kita sebut shaum atau puasa. Sujud? Dalam aktivitas apa kita melakukan sujud? Paling banyak pastilah sholat. Dalam sehari minimal sekali kita akan sujud 34 kali. Dua aktivitas ini yang Rasulullah syaratkan untuk mendapat dua permintaan yang agung tersebut. Kenapa bisa? Bisa!

Kita mulai dengan menjaga makanan, yang lebih jauh adalah ibadah shaum. Syarat ini diberikan Rasul untuk mendapatkan anugerah berupa do’a-do’a yang mustajab. Simak sebuah hadist berikut:

“Juga kelompok yang do’a mereka tidak ditolak ialah: orang yang berpuasa sehingga dia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang teraniaya.” (Riwayat Abu Hurairah r.a. dari Ahmad, dan Ibn Majah yang dianggap sebagai hadits hasan oleh Tirmidzi, dan dishahih-kan oleh Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban)

Betapa hebatnya efek dari ibadah shaum, yaitu terijabahnya do’a-do’a oleh Allah. Pantaslah Rasulullah mensyaratkan ibadah shaum sebagai “bantuan” agar permintaan Sa’ad ibn Abi Waqqash dapat terkabul. Tentu kita sudah bagaimana bagaimana kelanjutan kisah dari Sa’ad ibn Abi Waqqash. Do’anya menjadi mustajab dalam tiap kesempatan. Subhanallah.

Beranjak pada syarat kedua, yaitu sujud dalam shalat untuk mendapatkan surga. Mari kita simak penuturan Abdul Hamid Al Bilali dalam kitabnya Waahatu Al Iman mengenai hal ini:

”Rasulullah memberi penjelasan kepada sahabat itu tentang resep yang memasukkannya ke surga dan dan membuatnya dapat menemani beliau di sana. Yaitu dengan banyak sujud. Rasulullah bersabda kepada sahabat itu, ‘bantulah aku dengan banyak sujud’. Rasulullah bersabda seperti itu, sebab jiwa menyuruh kepada keburukan, tidak suka ibadah, dan benci lama ibadah. Karena itu, agar jiwa mudah dikendalikan, maka jiwa perlu dibersihkan terus-menerus dan dilawan,agar mudah dibawa kepada apa saja yang dikehendaki Allah ta’ala”

Shalat lah yang menjadi objek hisab pertama kali, jika shalatnya baik maka yang lainnya pun akan baik. Kebaikan-kebaikan ini dan ridho-Nya akan menghantarkan kita menuju surga-Nya kelak. Selain itu, sujud pula yang dapat mengangkat hamba dari neraka yang membakarnya. Imam Bukhari meriwayatkannya dalam kitab Shahihnya hadits berikut:

“Setelah Allah selesai memutuskan perkara seluruh hamba-Nya dan ingin mengeluarkan penghuni neraka yang Dia kehendaki dengan rahmat-Nya, maka Dia memerintahkan para malaikat untuk mengeluarkan dari neraka siapa saja yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun di antara orang-orang yang dikehendaki Allah untuk dia rahmati, yaitu di antara orang-orang yang bersaksi tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Para malaikat mengenali mereka di neraka dengan tanda sujud. Neraka menelan apa saja pada manusia, kecuali bekas sujud, sebab Allah mengharamkan neraka menelan bekas sujud. Lalu, mereka kelaur dari neraka dalam keadaan terbakar. Kemudian, mereka disiram air kehidupan, lalu mereka tumbuh di bawah air itu seperti biji-bijian tumbuh di tanah bekas banjir” (HR Bukhari)

Anda sudah sedikit bingung dengan penjelasan ini? Atau anda kira saya salah memberi judul tulisan ini? Kebetulan saya tidak salah memberi judul tulisan ini. Dua aktivitas ini dan ramadhan adalah berkaitan erat. Sadarkah kawan, menjaga makanan dengan shaum dan memperbanyak sujud dengan memperbanyak shalat adalah hal yang baru saja kita lakukan dengan semangat luar biasa tepat sebulan lamanya? Di bulan Ramadhan yang baru saja beberapa hari meningalkan kita, shaum menjadi amalan kita di siang hari nan terik, shalat malam menjadi agenda tak terlewatkan di malam yang dingin. Kita mengejar keutamaan beribadah di bulan nan agung itu.

Tapi, ada apa setelah Ramadhan?

Merasakah kita bahwa semangat menurun karena “reward” dari Allah tak sebesar di bulan Ramadhan? Baca lagi penjelasan tentang shaum dan sujud di atas! Betapa Allah tetap memberikan reward luar biasa besar bagi amalan yang kita lakukan di bulan Ramadhan, jika kita tetap melakukan amalan itu di luar bulan Ramadhan. Penjelasan di atas tidak berdasar pada masa-masa tertentu, tapi sepanjang tahun, di tiap bulan, di tiap hari kita berpuasa dan shalat. Allah mengganjar amalan itu dengan luar biasa besar. Untuk shaum saja, Allah siapkan do’a-do’a yang mustajab, sedangkan untuk memperbanyak shalat, surga! Apa lagi? Kurang besarkah rewards Allah di luar Ramadhan ini?

Maka jika ada pertanyaan “Ada Apa Setelah Ramadhan?”, jawablah dengan lantang “Ridho, karunia, dan nikmat Allah yang (masih) luar biasa besar!”. Jadikanlah tiap bulan menjadi bulan Ramadhan dengan tetap membawa semangat Ramadhan sepanjang tahun. Maka tercapailah moto yang kita azzamkan selama Ramadhan lalu, “menjadi hamba rabbani, bukan ramadhani!”

Wallahu a’lam..

| | Read More »

Liburan Mau Ngapain?

Cara mengisi waktu luang saat berlibur

1. Pergi ke ladang hijau
Menurut penelitian warna hijau bisa membuat pikiran kita menjadi fresh kembali dan menghilangkan stres. Jadi, bagi kalian yang bingung mengisi waktu luangnya bisa pergi ke sawah, padang rumput, atau apapun yang berbau natural. Yang namanya sawah pasti dekat donk dengan rumah kita ?

2. Belajar sesuatu yang baru
Kita juga bisa mengisi waktu luang kita di saat liburan dengan belajar hal-hal yang baru. Hal ini tentu yang membuat kita merasa senang dan yang kita butuhkan. Misalnya, seperti membuat kue, belajar membuat kerjinan tangan, pokoknya yang membuat kita merasa senang dan perlu untuk kita lakukan.

3. Rekreasi ke tempat wisata
Ke pantai ? arung jeram ? Hmm.... udah gak jaman kaya gitu-an mah. Pingin yang asyik dan menantang ? Bersepeda donk ! kita bisa mengisi waktu luang kita dengan bersepeda asyik lo...h selain berolahraga sepeda kita juga bisa berkeliling ke suatu daerah yang hijau-hijau gitu. Pokoknya ayik deh... dijamin.

4. Joging atau jalan santai
Bagi kalian yang merasa bosan tinggal dirumah saat waktu liburan mending kita jalan-jalan selain sehat ini juga membuat otak kita menjadi fresh kembali. Joging ke tempat-tempat hijau diusahakan pergi ke tempat yang natural jauh dari kebisingan kota. Hal ini juga merupakan salah satu Cara mengisi waktu luang saat berlibur

5. Menulis artikel-artikel menarik
Ini khusus untuk kalian-kalian yang home maniac. Kita bisa membuat sebuah artikel dengan membuat blog dan kita kirim ke Vlog. Agar artikel kita bisa dibaca oleh orang banyak. Selain memicu kreatifitas kita, menulis juga merupakan hal yang mengasyikan lo...h

6. Mancing
Nah.. yang satu ini paling banyak disukai oleh para bapak-bapak. Tetapi, hal ini bisa kita lakukan selaku anak-anak muda. Memang memancing membutuhkan kesabaran tapi, setelah kita mendapatkan ikan hasil jerih payah kita sendiri, it u akan memiliki kesenangan tersendiri dijamin asyik dan membuat fresh. Tempatnya gak usah jauh-jauh cukup di sungai, atau danau. Diusahakan sungai yang bersih yang belum terjamah tangan-tangan perusak. Hmm.... memang susah juga sih tapi, pasti ada kok terutama bagi kalian yang tinggal didaerah pedesaan uhk...

7. Bermain Badminton
Permainan khas Indonesia ini bisa kita mainkan di kala libur melanda. Ajak teman kalian untuk bermain badminton. Yah.. itung-itung ngisi waktu luang kita. Buat ajang ini sebagai ajang taruhan. Eits... bukan taruhan judi lo... taruhan disini siapa yang kalah melakukan apa yang dikatakan si pemenang. Suruh dia push up atau lari sepuluh keliling juga bisa. Hhh...

| | Read More »

Rasul Pernah Shalat Tarawih Berjamaah


Aisyah Ummul Mukminin berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى اللَّيْلَةَ الْقَابِلَةَ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ .

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah shalat pada suatu malam di masjid. Orang-orang pun turut shalat mengikuti shalat beliau. Kemudian pada malam berikutnya beliau shalat lagi dan orang-orang semakin banyak. Kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau keempat. Namun, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak keluar menemui mereka. Keesokan harinya, Nabi berkata, “Sungguh aku melihat apa yang kalian lakukan, dan tidak ada yang menghalangiku keluar kepada kalian selain aku takut jika ini diwajibkan atas kalian.” Dan itu pada bulan Ramadhan.”

Takhrij

Hadits ini diriwayatkan Imam Al Bukhari dari Abdullah bin Yusuf dari Malik bin Anas dari Ibnu Syihab Az Zuhri dari Urwah bin Az Zubair dari Aisyah.[1]

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim (1819), Malik (229), Abu Dawud (1166), Ahmad (24274), Ath Thabarani dalam Al Ausath (5439), Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab (3120), Ibnu Hibban (2592), dan Al Baghawi (988); juga dari Aisyah.

Hikmah dan Ibrah

Yang dimaksud shalat di masjid dalam hadits ini adalah shalat sunnah.
Kata “pernah” atau “pada suatu malam” di sini menunjukkan bahwa Nabi biasa shalat sunnah di rumah. Tetapi, sekali-kali beliau pernah melakukannya di masjid. Adapun shalat wajib, Nabi melaksanakannya berjamaah di masjid. Dalam hadits shahih disebutkan,
فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ صَلَاةُ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا الْمَكْتُوبَةَ .

“Sesungguhnya sebaik-baik shalat adalah shalat seseorang di rumahnya kecuali shalat wajib.”[2]

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah shalat malam pada bulan Ramadhan berjamaah bersama para sahabat di masjid.
Nabi hanya melakukan shalat malam[3] ini beberapa kali.
Nabi tidak melanjutkan shalat malam berjamaah bersama para sahabat bukan karena dilarang Allah, melainkan karena beliau khawatir jika shalat malam (baca: tarawih) diwajibkan atas umatnya.
Nabi sangat sayang dan mencintai umatnya, sehingga beliau takut umatnya dibebani shalat malam berjamaah di masjid pada bulan Ramadhan yang belum tentu umatnya sanggup melakukannya.
Bisa juga bermakna, bahwa Nabi khawatir jika umatnya menganggap shalat tarawih ini hukumnya wajib.
Shalat tarawih berjamaah di masjid ada dasarnya, karena Nabi pernah melakukannya, meskipun hanya beberapa kali. Namun demikian, apa yang dilakukan Nabi ini adalah sunnah.
Jika Nabi tidak melanjutkan tarawihnya bersama para sahabat karena khawatir akan diwajibkan, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan ketika kaum muslimin setelah Nabi melakukannya. Sebab, Nabi telah tiada, dan tidak mungkin ada syariat baru sepeninggal beliau.
Umar Mengumpulkan Orang Untuk Shalat Tarawih Berjama’ah

Abdurrahman bin Abdil Qari[4] berkata,

خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَرَانِي لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ فَقَالَ عُمَرُ نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي يَقُومُونَ يَعْنِي آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ .

“Saya keluar ke masjid bersama Umar bin Al Khathab pada bulan Ramadhan. Di sana banyak sekali orang yang terpencar-pencar. Ada yang shalat sendirian. Ada juga yang shalat sendiri, tetapi ada beberapa orang yang mengikutinya. Umar berkata; ‘Demi Allah, sesungguhnya saya melihat jika saya satukan mereka dengan seorang imam tentu akan lebih baik.’ Maka, Umar pun mengumpulkan mereka dengan Ubay bin Ka’ab sebagai imam. Kemudian, saya keluar lagi bersama Umar pada malam yang lain, dimana ornag-orang shalat dengan qari` (imam) mereka. Umar berkata; ‘Ini adalah bid’ah yang sangat bagus. Tetapi, orang-orang yang sekarang tidur itu lebih baik daripada yang bangun.’ Maksud Umar, orang yang tidur untuk bangun di akhir malam. Waktu itu, orang-orang qiyamullail pada awal malam.”

Takhrij

Hadits ini diriwayatkan Imam Malik bin Anas bin Malik Al Ashbahi Al Madani (w. 179 H) dari Ibnu Syihab Az Zuhri dari Urwah bin Az Zubair dari Abdurrahman bin Abdil Qari. [5]

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari (1871), Al Baihaqi dalam Syu’ab Al Iman (3122), dan Abdurrazaq dalam Al Mushannaf (7723).

Hikmah dan Ibrah

Menurut Umar bin Al-Khathab Radhiyallahu ‘Anhu, daripada orang-orang di masjid ada yang shalat sendiri-sendiri dan ada juga yang berjamaah, akan lebih baik jika mereka disatukan dalam satu shalat jamaah dengan seorang imam.
Shalat tarawih berjamaah di masjid yang dilakukan Umar bukanlah sesuatu yang baru, melainkan pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Shalat tarawih di masjid adalah sunnah, dan shalat malam di rumah juga sunnah.
Imam Al Hakim berkata,

صَلَاةُ التَّرَاوِيْحِ فِي مَسَاجِدِ الْمُسْلِمِيْنَ سُنَّةٌ مَسْنُوْنَةٌ .

“Shalat tarawih di masjid-masjid kaum muslimin adalah sunnah yang disunnahkan.”[6]

Yang dimaksud bid’ah oleh Umar bukanlah bid’ah secara syar’i, melainkan bid’ah dari sisi lughawi (bahasa), yakni menyatukan orang-orang secara sengaja berdasarkan instruksinya sebagai Amirul Mukminin untuk shalat tarawih berjamaah.
Ditunjukkanya Ubay bin Ka’ab sebagai imam shalat tarawih, menunjukkan bahwa yang paling layak dan berhak menjadi imam adalah orang yang terbaik bacaan dan pengetahuan Al-Qur`annya.
Kata Umar, “Orang-orang yang sekarang tidur itu lebih baik daripada yang bangun.” Maksudnya, berjamaah tarawih di masjid pada awal malam adalah bagus. Namun, orang yang tidur pada awal malam agar bisa bangun tengah malam atau dini hari untuk shalat adalah lebih bagus lagi.
_________________________________
[1] Shahih Al Bukhari, Kitab Al-Jumu’ah, Bab Tahridh An Nabiy ‘Ala Shalati Al Lail wa An Nawafil, hadits nomor 1061.

[2] HR. Al Bukhari (689) dan Muslim (1301) dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘Anhu.

[3] Shalat malam pada bulan Ramadhan ini selanjutnya dikenal sebagai “shalat tarawih”.

[4] Abu Muhammad Abdurrahman bin Abdil Qari Al Madani, seorang tabi’in yang mulia. Waktu kecil, ia pernah dibawa ayahnya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tetapi dia tidak pernah mendengar dan meriwayatkan hadits langsung dari Nabi. Para ulama memasukkannya dalam kelompok tabi’in. Pada masa Umar, dia pernah diberi kepercayaan sebagai penanggung jawab Baitul Mal. Abdurrahman wafat tahun 80 H (ada yang mengatakan 81 H) dalam usia 78 tahun.

[5] Lihat Al Muwaththa`, Kitab An Nida` li Ash-Shalah, Bab Ma Ja`a fi Qiyam Ramadhan, hadits nomor 231.

[6] Al-Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain (1560).Lihat Al Muwaththa`, Kitab An Nida` li Ash-Shalah, Bab Ma Ja`a fi Qiyam Ramadhan, hadits nomor 231.

Rep/Red: Shabra Syatila
Sumber: Ustadz Abduh Zulfidar Akaha

| | Read More »

Keutamaan Bulan Sya'ban

Bulan Sya’ban adalah bulan yang ke-8 dalam sistem kalender Islam. Bulan Sya’ban berada di antara bulan hijriyah Rajab dan Ramadhan. Nama bulan ini berakar dari kata bahasa arab tasya’aba yang berarti berpencar. Pada masa itu, kaum arab biasa pergi memencar, keluar mencari air. Bulan Sya’ban juga berasal dari kata sya’aba yang berarti merekah atau muncul dari kedalaman karena ia berada di antara dua bulan yang mulia juga.

Rasulullah menyebut bulan Sya’ban ini sebagai bulan yang sering dilupakan manusia. Ia dilupakan karena berada di antara dua bulan yang menyedot perhatian: bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan Rajab diperhatikan karena ia merupakan salah satu dari bulan Haram, sementara Ramadhan karena adanya kewajiban puasa sebulan penuh di dalamnya.

Puasa Sunnah di Bulan Sya’ban
Rasulullaah biasa memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Beliau hampir penuh puasa di bulan ini. Beliau hanya berbuka atau tidak berpuasa pada beberapa hari saja.
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan,
يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

“Terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam puasa beberapa hari sampai kami katakan, ‘Beliau tidak pernah tidak puasa, dan terkadang beliau tidak puasa terus, hingga kami katakan: Beliau tidak melakukan puasa. Dan saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering ketika di bulan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Aisyah mengatakan,
لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ
“Belum pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Sya’ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh.” (H.R. Al Bukhari dan Msulim)
Aisyah mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَفَّظُ مِنْ هِلَالِ شَعْبَانَ مَا لَا يَتَحَفَّظُ مِنْ غَيْرِهِ، ثُمَّ يَصُومُ لِرُؤْيَةِ رَمَضَانَ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْهِ، عَدَّ ثَلَاثِينَ 
يَوْمًا، ثُمَّ صَامَ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian terhadap hilal bulan Sya’ban, tidak sebagaimana perhatian beliau terhadap bulan-bulan yang lain. Kemudian beliau berpuasa ketika melihat hilal Ramadhan. Jika hilal tidak kelihatan, beliau genapkan Sya’ban sampai 30 hari.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An Nasa’i dan sanad-nya disahihkan Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

Ummu Salamah radhiallahu ‘anha mengatakan,
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنَ السَّنَةِ شَهْرًا تَامًّا إِلَّا شَعْبَانَ، وَيَصِلُ بِهِ رَمَضَانَ

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam belum pernah puasa satu bulan penuh selain Sya’ban,
kemudian beliau sambung dengan Ramadhan.” (HR. An Nasa’i dan disahihkan Al Albani)

Hadis-hadis di atas merupakan dalil keutamaan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, melebihi puasa di bulan lainnya.

Keistimewaan Sya’ban
Ternyata, puasa beliau ini mengandung hikmah yang luar biasa. Dari sisi fisik, ia merupakan persiapan bagi kita untuk menghadapi puasa di bulan Ramadhan yang sebulan penuh. Dari sisi spiritual, hadits berikut ini menyatakan rahasia hikmah di balik memperbanyak puasa di bulan Sya’ban.

Dari Usamah bin Zaid, dia berkata, saya bertanya: “Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau (sering) berpuasa dalam satu bulan seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban?” Beliau bersabda: “Itu adalah bulan yang kebanyakan orang melalaikannya yaitu antara Rajab dan Ramadhan. Yaitu bulan yang di dalamnya diangkat amalan-amalan kepada Allah, Tuhan seluruh alam. Maka aku ingin [ketika] amalanku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.” (Dinyatakan hasan oleh Al Albani dalam Shahih An Nasa’i, no. 2221; dishahihkan oleh Ibnu Huzaimah).

Betapa tergambar kedekatan Rasulullaah akan pengawasan Allah dan keinginan beliau untuk selalu memberikan yang terbaik sebagai seorang hamba kepada Rajanya. Beliau ingin mengantarkan amal-amal kebaikan yang sedang menuju keharibaan Allah dalam kondisi terbaik, terhindar dari maksiat dan dosa. Dan hal ini dapat dicapai dengan puasa.

Hikmah Puasa di Bulan Sya’ban
Ustadz Ammi Nur Baits dalam konsultasi syariahnya menyatakan bahwa ulama berselisih pendapat tentang hikmah dianjurkannya memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, mengingat adanya banyak riwayat tentang puasa ini.

Pendapat yang paling kuat adalah keterangan yang sesuai dengan hadis dari Usamah bin Zaid, beliau bertanya: “Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat Anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana Anda berpuasa di bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.” (HR. An Nasa’i, Ahmad, dan sanadnya dihasankan Syaikh Al Albani)

Memperbanyak Ibadah di Malam Nisfu Sya’ban
Kemudian beliau menjelaskan tentang para ulama yang berselisih pendapat tentang status keutamaan malam Nisfu Sya’ban. Setidaknya ada dua pendapat yang saling bertolak belakang dalam masalah ini. Berikut keterangannya:

Pendapat pertama, tidak ada keuatamaan khusus untuk malam Nisfu Sya’ban. Statusnya sama dengan malam-malam biasa lainnya. Mereka menyatakan bahwa semua dalil yang menyebutkan keutamaan malam Nisfu Sya’ban adalah hadis lemah. Al Hafidz Abu Syamah mengatakan: Al Hafidz Abul Khithab bin Dihyah –dalam kitabnya tentang bulan Sya’ban– mengatakan, “Para ulama ahli hadis dan kritik perawi mengatakan, ‘Tidak terdapat satupun hadis shahih yang menyebutkan keutamaan malam Nisfu Sya’ban’.” (Al Ba’its ‘ala Inkaril Bida’, Hal. 33).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga mengingkari adanya keutamaan bulan Sya’ban dan Nisfu Sya’ban. Beliau mengatakan, “Terdapat beberapa hadis dhaif tentang keutamaan malam nisfu Sya’ban, yang tidak boleh dijadikan landasan. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan shalat di malam Nisfu Sya’ban, semuanya statusnya palsu, sebagaimana keterangan para ulama (pakar hadis).” (At Tahdzir min Al Bida’, Hal. 11)

Pendapat kedua, terdapat keutamaan khusus untuk malam Nisfu Sya’ban. Pendapat ini berdasarkan hadis shahih dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu ‘anhu, dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibn Majah, At Thabrani, dan dishahihkan Al Albani).

Setelah menyebutkan beberapa waktu yang utama, Syaikhul Islam mengatakan, “…pendapat yang dipegangi mayoritas ulama dan kebanyakan ulama dalam Madzhab Hambali adalah meyakini adanya keutamaan malam Nisfu Sya’ban. Ini juga sesuai keterangan Imam Ahmad. Mengingat adanya banyak hadis yang terkait masalah ini, serta dibenarkan oleh berbagai riwayat dari para sahabat dan tabi’in…” (Majmu’ Fatawa, 23:123)

Ibn Rajab mengatakan, “Terkait malam Nisfu Sya’ban, dulu para tabi’in penduduk Syam, seperti Khalid bin Ma’dan, Mak-hul, Luqman bin Amir, dan beberapa tabi’in lainnya, mereka memuliakannya dan bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam itu…” (Lathaiful Ma’arif, Hal. 247).

Sumber : Fimadani.com

| | Read More »

Tips Mandiri Manajemen Tugas

Wahai adik-adikku, memang seringkali beban atau amanah dipundak ini terasa berat, amanah-amanah yang pastinya akan dituntut semua yang menyaksikannya, terutama kepada Yang Maha Kuasa. Tapi percayalah, “Tuhan tidak akan memberikan beban yang tidak bisa dipikul hamba-hambanya”, mungkin hanyalah kalimat itu yang dapat menentramkan hati kita, yang dapat menjadi sebuah dorongan automatic dari dalam diri sendiri sebelum motivasi dari luar ikut menyokong perjalanan ini.

Kadang diri kita dengan sendirinya berfikir, “Saya sendiri saja belum tentu bisa mengurus diri sendiri, bagaimana mengurus orang lain?”. Ternyata kita masih meragukan kemampuan diri masing-masing. Seringkali terbesit fikiran, “Belum amanah ini, belum tugas itu, belum kewajiban sebagai anak, belum kewajiban sebagai Mahasiswa,…. dll”. Wah!! Ternyata kewajiban kita lebih banyak ya dari waktu yang diberikan…!! Mungkin kalimat tersebut terlihat cukup simple, namun lagi-lagi sebuah kalimat tidak sesederhana apa yang diucapkannya. Bagaimanakah sebagai manusia kita dapat mensiasati atau mencari solusi terhadap permasalahan klasik ini? Disinilah letak kebijaksanaan seseorang diuji.
“Manusia diciptakan dengan sebaik-baiknya akal dan fikiran, melebihi apa pun mahluk lainnya, dengan begitu kita dituntut untuk kreatif untuk menyelesaikan suatu problema.”

Begitu juga dengan hal yang dibahas sebelumnya, tugas/amanah sering kita biarkan menjadi beban bukan menjadi sebuah anugrah karena telah dipercayakan untuk mengembannya, dengan begitu kita akan menjadi lebih positive menyikapinya. Dari positif sikap, akan muncul efektifitas dan maksimalisasi kerja yang tentunya berefek kepada hasil yang memuaskan.
Mungkin dalam kasus ini saya akan coba ambil masalah dalam organisasi. Dalam organisasi kadang muncul kelelahan terhadap tugas yang membombambir suatu individu, karena tuntutan proker dari sang empunya Himpunan. Maka dengan berbagai keluhan dari individu tersebut, akhirnya program tersebut gagal terlaksana dengan matang. Nah.. maka dari itu diperlukan suatu jalan keluar yang solutif, yaitu membagi tugas-tugas yang berat itu dengan adik-adik dan teman-teman seperjuangan yang tentunya sesuai dengan porsi-porsinya.

Lihatlah sekumpulan semut merah yang melihat putusnya ranting, apakah mereka membatalkan untuk menyebrang ke ranting berikutnya? Ternyata tidak kawan, mereka malahan membuat jembatan dengan tubuh-tubuh mereka dan dengan rela membiarkan tubuh-tubuh mereka diinjak oleh teman-teman seperjuangannya. Begitulah arti sebuah pengorbanan, disini nilai kebersamaan bisa terasa sangat manis. Merelakan kepentingan pribadi demi terwujudnya cita-cita bersama.
Apakah sebuah plat bisa kuat menahan beban diatasnya dengan hanya satu batang tulangan”
Saya kira kalimat diatas sudah menjadi keseharian masyarakat Sipil. Ternyata alam sudah mengajarkan kita tentang arti sebuah kerjasama! kerja berjamaah! Dan dengan tidak disangka, dengan tidak sadar manusia pun mengaplikasikannya lewat teknologi plat yang saya bahasakan sebelumnya. Keteraturan pergantian malam dan siang pun bisa memberikan pelajaran bagi kita pentingnya koordinasi, bayangkan jika matahari muncul sebelum bulan hilang (walaupun memang bukan matahari dan bulan yang menghilang, tetapi bumi yang berputar), akan terjadi kekacauan yang sangat dahsyat didalamnya. Disinilah kekreatifan manusia diiuji untuk mengambil pesan-pesan yang tersirat dari alam dan lingkungan sekitar.

Namun bukan berarti dengan membagi tugas kepada adik-adik atau teman seperjuangan dengan seenak perut kita itu hal yang bijaksana, bisa jadi mereka yang kita bagi tugas tersebut juga mempunyai hajat yang lebih penting dibanding mengerjakan tugas dari anda. Lagi-lagi kesempurnaan akal kita diajak untuk menelusuri lebih jauh kemampuannya.
Begini, kadang kita memberikan sebuah tugas kepada seseorang tanpa tahu dasarnya. Apakah orang tersebut mampu? apa dia berpengalaman? Disini letak kesalahan kita, secara tidak sadar kita memberi sebuah tugas kepada seseorang tanpa tahu kapabilitas orang tersebut, malahan lebih sering kita menuntut hasil yang maksimal daripada memberikan pengertian kenapa ia yang harus mengemban tugas tersebut. Dari sini akan terjadi reaksi yang baik terhadap sang pengemban tugas ketika ia diberi pemahaman tentang tugas yang ia emban, dan lebih baik lagi ia akan mengerjakan tugas tadi dengan positive thinking (juga hasil yang maksimal). Tentunya didasari dengan kata-kata yang baik, memotivasi serta dengan siap memback-up segala kebutuhan sang pengemban tugas (tempat bertanya dll), maka Inysa Allah akan terjadi simbyosis mutualisme di dalam tubuh organisasi tersebut.

Itu semua mungkin bisa menjadi awal dan langkah yang baik untuk memulai sebuah kerjasama yang menguntungkan, kerja jamaah. Dan tentunya dengan niat ikhlas saling mengingatkan dan saling mengajarkan. Sekiranya itulah yang bisa saya sampaikan dari berbagai pengalaman yang saya lalui di organisasi-organisasi sebelumnya, sifat saling memaafkan, saling memahami kepribadian orang lain, dan keasyikan memperbaiki diri yang juga sangat menunjang.
Oleh: Riant Raafi, Jakarta
Sumber : Fimadani

| | Read More »

Masjid Cordoba Di Masa Kejayaan dan Kemunduran Islam

Di dalam sejarah Islam, masjid memegang peranan penting untuk kemajuan peradaban. Kita sering melihat di atas kubah masjid ada lambang bulan sabit dan bintang sebagai lambang kejayaan. Masjid yang pertama kali di bangun Rasulullah Saw. adalah masjid Quba, kemudian masjid Nabawi. Masjid ini selain sebagai tempat beribadah, juga tempat menuntut ilmu, bermusyawarah dan mengatur strategi perang.
Seiring dengan berjalannya waktu, fungsi masjid semakin sangat sentral. Di dalam kompleks masjid di bangun sekolah, perpustakaan, laboratorium, dan observatorium. Masjid menjadi tempat yang paling banyak dikunjungi orang daripada tempat lainnya. Orang pergi ke masjid tidak hanya berniat beribadah di dalamnya, tetapi juga menuntut ilmu dan berdiskusi.
“Di era kejayaan Islam, masjid tak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah saja, namun juga sebagai pusat kegiatan intelektualitas,” ungkap J. Pedersen dalam bukunya berjudul Arabic Book.
Sejarawan asal Palestina, AL Tibawi, menyatakan bahwa sepanjang sejarahnya, masjid dan pendidikan Islam adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Di dunia Islam, sekolah dan masjid menjadi satu kesatuan. “Sejak pertama kali berdiri, masjid telah menjadi pusat kegiatan keislaman, tempat menunaikan shalat, berdakwah, mendiskusikan politik, dan sekolah,” cetus Jacques Wardenburg.
Salah satu masjid yang paling terkenal dalam sejarah Islam adalah Masjid Cordoba di Spanyol. Masjid ini dibangun oleh Khalifah Bani Umayyah yang bernama Abdurrahman III. Masjid ini memiliki seni arsitektur yang tinggi dan indah. Tinggi menaranya 40 hasta di atas batang-batang kayu berukir dan ditopang oleh 1293 tiang yang terbuat dari berbagai macam marmer bermotif papan catur. Di sisi selatan tampak 19 pintu berlapiskan perunggu dengan kreasi yang sangat menakjubkan. Sementara pintu tengahnya berlapiskan lempeng-lempeng emas. Panjang Masjid Cordoba dari utara ke selatan mencapai 175 meter dan lebarnya dari timur ke barat 134 meter. Sedangkan tingginya mencapai 20 meter.
Setiap gerbang di masjid itu terdapat batu-bata merah dan batu putih. Gabungan unsur batu-batu tersebut mampu mewujudkan konsep jaluran yang menakjubkan. Konsep jaluran merah-putih itu banyak mempengaruhi seni arsitektur bangunan di Spanyol. Hiasan dindingnya disemarakkan unsur flora dan inskripsi dari al-Quran dalam bentuk ukiran kapur, kaca, marmar dan mozaik emas.
Bangunan masjid ini sangat kokoh dan tahan gempa, bahkan pada gempa keras yang pernah terjadi tahun 1793 (gempa bumi Lisabon) tidak ada sedikitpun keretakan yang terjadi. Sedangkan bangunan Kathedral dalam bagian masjid ini didirikan pada awal abad ke-13 masehi telah mengalami keretakan yang saat ini masih dapat terlihat.
Selain itu, kemegahan dekorasi pada ruang shalat juga sangat menonjolkan ruang mihrab. Lubang-lubang hiasan diletakkan pada ruangan kecil berbentuk segi delapan. Konfigurasi yang menakjubkan pada mihrab tersebut menjadi pusat perhatian. Kemegahan Masjid Cordoba yang bertahan hingga sekarang menjadi saksi masa keemasan Islam di benua Eropa..
Keagungan masjid ini mencerminkan kemakmuran dan kesejahteraan Negara tersebut. Cordoba pada saat itu menjadi pusat perdagangan, ilmu pengetahuan, dan ibu kota kekhalifahan Bani Umayyah. Saat itu, terdapat 170 wanita yang berprofesi sebagai penulis kitab suci al-Quran dengan huruf Kufi yang indah. Anak-anak fakir miskin pun bisa belajar secara gratis di sekolah yang disediakan Khalifah. Aktivitas di masjid begitu semarak. Tak heran, jika pada malam hari, masjid itu diterangi 4.700 buah lampu yang menghabiskan 11 ton minyak pertahun
Setiap tahun perpustakaan Masjid Cordoba dikunjungi oleh lebih dari 400.000 orang. Jumlah ini sangat jauh berbeda dengan kunjungan orang-orang di perpustakaan-perpustakaan Eropa yang hanya mencapai 1000 orang pertahunnya. Perpustakaan Masjid Cordoba tidak hanya dikunjungi oleh muslim, tetapi juga non-muslim. Salah satu alumninya adalah pemimpin tertinggi agama Katolik, Paus Sylvester II. Selepas belajar matematika di Spanyol, dia kemudian mendirikan sekolah katedral dan mengajarkan aritmatika dan geometri kepada para muridnya.
Masjid Cordoba telah menghasilkan ulama dan ilmuwan-ilmuwan besar yang dikenang
sepanjang masa. Beberapa di antaranya:
  • Ibnu Rusyd: ahli fikih penulis kitab Bidayatul Mujtahid dan juga filosof dan dokter ternama.
  • Ibnu Hazm: ahli fikih penulis kitab al-Muhalla, sastrawan, dan juga pakar studi perbandingan agama.
  • Al-Qurthubi: ahli tafsir penulis kitab Tafsir al-Qurthubi.
  • Ibnu Bajjah: ahli matematika ternama.
  • Al-Ghafiqi: ahli botani ternama.
  • Ibnu Thufayl: ahli kedokteran dan filosof ternama.
  • Al-Idrisi: seorang kartografer dan geographer ternama.
  • Ibnu Farnas: peletak dasar penciptaan pesawat terbang.
  • Al-Zahrawi: ahli bedah yang telah menciptakan alat-alat bedah.
  • Ibnu Zuhr: dokter ahli jantung ternama.
Namun sayang, sejak ditaklukkan oleh Raja Leon Alfonso VII yang Kristen, masjid ini dirubah fungsinya menjadi sebuah gereja. Pada awal abad ke-13, kekhalifahan Bani Umayyah tidak dapat mengatasi serbuan bangsa Eropa yang datang dari Utara maka Cordoba ditaklukkan, termasuk masjid ini ikut diduduki. Kemudian beberapa tiang dihancurkan dan di dalam bangunan masjid didirikan kathedral yang diberi nama Cathedral Mezquita (Katedral Masjid). Pada beberapa dinding masjid saat ini terlihat lambang-lambang non muslim. Sampai saat ini masih berdentang lonceng gereja tiap beberapa menit sekali.
Mengabaikan janji mereka untuk toleran terhadap keyakinan kaum Muslim, bangsa Spanyol yang Kristen ikut serta dalam gelombang pemaksaan, pengusiran dan pembunuhan. Masjid-masjid dihancurkan, sebaliknya gereja-gereja dibangun.
Kenangan pada “masa berdarah” dan perang yang selama ratusan tahun melanda seluruh Spanyol masih hidup dalam ingatan kebanyakan orang-orang Kristen.
Bahkan hari ini di bukit-bukit sekitar Granada, mereka masih menggunakan doa pembaptisan lama, “Inilah anakmu: kau berikan seorang Moor (muslim) padaku, Aku kembalikan dia menjadi seorang Kristen.”
Keruntuhan Cordoba itu tidak saja diratapi oleh Umat Islam, tetapi juga seorang penulis Kristen Stanley Lane Poole dalam bukunya “The Mohammadan Dynasties” mengaku betapa mundurnya peradaban Spanyol setelah runtuhnya kerajaan Islam Cordoba.
Oleh: Abu Farras Mujahid, Bandung
Sumber : Fimadani

| | Read More »

Beginilah Dakwah Mengajari Kami

Untuk saudara-saudara kami di jalan dakwah , tulisan ini adalah catatan kecil dari perjalanan panjang kita. Agar kita lebih merasakan kesyukuran dan ketundukan kepada Allah SWT atas karunia-Nya kita berada dalam kebersamaan ini. Berbahagialah dan berbanggalah karena Allah telah memilih kita berada di jalan ini. Allah SWT telah mengistimewakan kita menerima nikmat berjama’ah dan ini adalah karunia terbaik yang kita terima setelah karunia keimanan kepada Allah SWT. Karunia yang tidak kita dapat karena nasab, status, harta maupun ilmu. Tapi ia semata-mata karunia Allah SWT Yang Maha Rahman, Yang menuntun langkah kita hingga sampai di sini, di jalan ini, pada detik ini. Allah SWT berfirman : “ Dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya.” (QS. Ali Imran : 103)

Nikmat ini tidak boleh direndahkan, diremehkan apalagi dipermainkan. Kita harus menjaga dan memelihara nikmat yang teramat agung ini. Dan kita wajib merasa khawatir andai nikmat itu hilang.

“ Ya Tuhan kami, jangan Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat di sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia). “ (QS Ali Imran : 8)

Dari Sini Kami Memulai

“ Jalan Dakwah mengajarkan bahwa kami memang membutuhkan dakwah. Kebersamaan dengan saudara-saudara di jalan ini semakin menegaskan bahwa kami harus hidup bersama mereka di jalan ini agar berhasil dalam hidup di dunia dan di akhirat “.

Mengapa Berada di Jalan Dakwah ?

Kami ingin seperti para pendahulu kami di jalan ini yang telah banyak memperoleh pahala dan keridhaan Allah karena peran-peran dakwahnya. Dan karena itulah, kami memang sangat membutuhkan jalan ini, sebagai penyangga kebahagiaan dunia dan akhirat kami. Tidak heran, jika para penyeru kebaikan, menjadi alasan turunnya limpahan rahmat dan kasih sayang Allah SWT. Tak ada makhluk Allah yang dapat dukungan dan do’a seluruh makhluk-Nya kecuali mereka yang mengupayakan perbaikan dan berdakwah. Sebagaimana sabda Rasululllah SAW, “ Sesungguhnya Allah, para malaikat, semut yang ada di dalam lubangnya, bahka ikan yang ada di lautan akan berdo’a untuk orang yang mnegajarkan kebaikan kepada manusia. “ (HR. Tirmidzi)

Allah SWT menjelaskan tiga kelompok manusia dalam masalah ini. Mereka adalah, kelompok penyeru dakwah yang salih, kelompok salihin tapi tidak menyerukan dakwah dan orang-orang yang mengingkari dakwah. Allah SWT berfirman : “ Dan (ingatlah) ketika suatu kaum di antara mereka berkata: “ Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “ Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertaqwa. “ Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka. Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. “ (QS. Al A’raf 164-165)

Nash Al-Qur’an itu merupakan peringatan bagi kami. Bahwa meninggalkan peran dakwah, tidak pernah diterima apapun alasannya. Bahkan bisa jadi sikap tersebut menundang kemarahan Allah (Musafir fi Qithari ad Da’wah, Dr. Abdil Abdullah Al Laili, 195).

Ada pula hadits Rasulullah SAW yang lainnya, Abu Bakar RA mengatakan, “ Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “ Sesungguhnya manusia jika mereka melihat kemungkaran dan mereka tidak merubahnya, dikhawatirkan mereka akan diratakan oleh Allah SWT dengan azab-Nya”. (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Teman-Teman Pilihan

Hendaknya teman yang menemaninya dalam perjalanan itu adalah orang yang bisa membantunya dalam menjalankan prinsip agama, mengingatkannya tatkala lupa, membantu dan mendorongnya ketika ia tersadar. Sesungguhnya orang itu tergantung agama temannya. Dan seseorang tidak dikenal kecuali dengan melihat siapa temannya....” (Ihya ‘Ulumiddin, 2/202)

Kami dan Amal Jama’i

Realitas yang kami lihat sendiri bahwa manusia cenderung akan menjadi lemah ketika bekerja seorang diri.. Sebaliknya akan menjadi kuat dan berdaya ketika ia besama-sama dengan yang lain. Ada juga realitas lainnya, bahwa siapapun yang berusaha mewujudkan sesuatu, meskipun mereka telah ikhlas dalam melakukannya, tetapi tidak akan banyak memberi pengaruh untuk mewujudkan kondisi yang diinginkan jika ia melakukannya sendirian. Kesendiriannya itu menyebabkan upaya yang mereka lakukan menjadi lemah dan minim efeknya.

Bekerja untuk Islam mutlak memerlukan sebuah organisasi, perlu adanya pimpinan yang bertanggung jawab, membutuhkan adanya pasukan dan anggota yang taat, harus memiliki peraturan mendasar yang mengikat dan menata hubungan antara pimpinan dan anggota, harus ada yang membatasi tangung jawab dan kewajiban, menjelaskan tujuan dan sarana serta semua yang diperlukan oleh suatu aktifitas dakwah dalam merealisasikan tujuannya. Dalam kebersamaan itulah kami menempuh jalan dakwah ini.

Perjalanan ini Mutlak Memerlukan Pemimpin

Hendaknya suatu perjalanan dipimpin oleh orang yang paling baik akhlaknya, paling lembut dengan teman-temannya, paling mudah terketuk hatinya dan paling mungkin dimintakan persetujuannya untuk urusan penting. Seorang pemimpin dibutuhkan karena pandangannya yang beragam untuk menentukan arah perjalanan dan kemaslahatan perjalanan. Tidak ada keteraturan tanpa kesatuan pengaturan. Alam ini menjadi teratur karena pengatur alam semesta ini adalah satu.” (Ihya Ulumiddin, 2/202)

Kami telah mempercayai para pemimpin itu sebagai pemandu perjalanan kami. Maka, setelah proses syuro berlangsung, apapun keputusannya, itulah yang akan kami pegang untuk dijalankan. Kami yakin, keputusan syuro itu tidak pernah keliru. Dan keputusan itu bersifat Multazam (Mengikat).

Meskipun mungkin saja akibat pelaksanaan satu keputusan syuro memunculkan situasi yang tidak maslahat. Tapi sebuah keputusan yang dilandasi dengan syuro tidak pernah salah. Itulah yang juga disampaikan kepada kami oleh Ustadz Sa’id Hawa rahimahullah, bahwa hasil syuro tidak pernah salah. Karena mekanisme itulah yang dijabarkan oleh Islam untuk menentukan langkah yang dianggap paling benar. Jika pada akhirnya, keputusan itu ternyata tidak memberikan kesudahan seperti yang diharapkan, maka proses syuro kembali yang akan menindaklanjuti kekeliruan itu.

Jalan ini, Miniatur Perjalanan Sesungguhnya

Kebersamaan kami bukan tanpa perselisihan. Boleh jadi ada di antara kami yang mengalami kesenjangan hubungan karena satu dan lain hal. Padahal, keharusan kami untuk bersama dan kemungkinan kami berselisih, adalah dua kutub yang saling berlawanan. Kebersamaan membutuhkan kesepakatan, kekompakan, kesesuaian, kedekatan dan keintiman. Sementara perselisihan bisa mengaktifkan kesenjangan, ketidaksukaan, kebencian, hingga keterpisahan.

Tiga Karakter Penempuh Perjalanan

Kelompok Zaalimun Li Nafsihi, adalah orang-orang yang lalai dalam memepersiapkan bekal perjalanan. Mereka enggan untuk mengumpulkan apa-apa yang membuatnya sampai tujuan.

Kelompok Muqtashid, adalah mereka mengambil bekal secukupnya saja untuk bisa sampai ke tujuan perjalanan. Mereka tidak memperhitungkan bekal apa yang harus dimilki dan mereka bawa jika ternyata mereka harus menghadapi situasi tertentu, yang menyulitkan perjalanannya.

Kelompok Saabiqun Bil Khairaat, yakni orang-orang yang obsesinya adalah untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Mereka membawa perbekalan dan barang dagangan lebih dari cukup karena mereka tahu hal itu akan memberi keuntungan besar baginya. Selain itu mereka juga tahu bahwa di tengah perjalanan ini, sangat mungkin mereka mengalami situasi sulit yang membutuhkan perbekalan tambahan. (Thariqul Hijratain, 236).

Begitu pentingnya, bekal ketaqwaan yang erat kaitannya dengan modal ruhiyah kami di jalan ini, maka setiap kali ketaqwaan kami melemah, pada saat itu intensitas dakwah kami menurun. Dan ketika tingkat ketaqwaan kami berkurang dari seharusnya, ketika itulah kami mengalami situasi futur (kelemahan) untuk meneruskan perjalanan ini. Seperti itulah pelajaran yang kami temukan dalam diri kami, dan juga saudara-saudara kami di jalan ini.

Ketika Kami Membangun Kebersamaan

“ Tak semua batu bata diletakkan pada posisi yang tinggi, dan tidak juga harus semuanya ada di bawah. Bahkan terkadang si tukang batu, akan memotong batu bata tertentu jika dibutuhkan untuk menutup posisi batu bata yang masih kosong guna melengkapi bangunannya.”

Menjadi Batu Bata dalam Bangunan ini

Kebersamaan kami di jalan ini adalah karena kehendak kami untuk ambil bagian dalam bangunan besar ini. Maka, sebagaimana proses membangun sebuah bangunan pada umumnya, tukang batu pasti akan memilah-milah batu bata mana yang akan ia tempatkan pada bangunannya. Tak semua batu bata diletakkan pada posisi yang tinggi, dan tidak juga harus semuanya ada di bawah. Bahkan terkadang si tukang batu, akan memotong batu bata tertentu jika dibutuhkan untuk menutup posisi batu bata yang masih kosong guna melengkapi bangunannya.

Batu Bata yang Unik dan Khas Jalan ini

Para sahabat dan salafus sholeh menerima dan mengejar kekhususan itu agar memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah SWT. Di jalan dakwah ini, kami memiliki saluran yang amat banyak untuk mewujudkan kekhususan yang kami miliki dengan berkontribusi di jalan ini. Kami memetik hikmah dari perjalanan mereka, dan kami berharap semoga jalan dakwah ini bisa memproses kami hingga kami memiliki amal-amal unggulan yang menjadi keistimewaan kami di sisi Allah melalui jalan ini.

Untuk Menolong, Bukan Ditolong

Sesungguhnya di jalan inilah kami semakin mendalami makna kehidupan yang bersumber dari keberartian bagi orang lain. Kehidupan seseorang menjadi lebih berharga ketika ia mempunyai saham dan peran bagi orang lain. Dan kehidupan akan menjadi miskin makna dan rendah nilainya ketika hanya banyak bermanfaat bagi lingkup pribadi. Filosofi inilah yang menyebabkan kami menikmati kesibukan berpikir dan melakukan banyak aktifitas dakwah di antara kesibukan lain yang menyertai kami. Di sini, kami lebih merasakan pengaruh firman Allah “ Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia (Allah) menolong kalian dan mengokohkan pijakan kaki kalian.” (Muhammad 9)

Kebersamaan Kami Terikat Lima Hal

Pertama, Rabithatu al ‘aqidah (Ikatan Aqidah). Tali ikatan aqidah islamiyah yang menyatukan kami dengan jalan ini. Kesamaan imanlah yang menghimpun dan mengikat kami bersama saudara-saudara kami di sini.

Kedua, Rabithatu al fikrah (ikatan pemikiran). Sejak awal, kebersamaan kami di jalan ini memang dibangun oleh kesamaan cita-cita dan pemikiran. Kami disatukan oleh kesamaan ide, gagasan, keinginan dan cita-cita hidup yang kami yakini merupakan sarana yang bisa menyampaikan kami kepada keridhaan Allah SWT.

Ketiga, Rabithatu al ukhuwwah (ikatan persaudaraan). Tak ada yang melebihi warna jiwa kami setelah keimanan kepada Allah, kecuali suasana persaudaraan karena Allah SWT di jalan ini. Kami di jalan ini, terikat dengan ruh persaudaraan yang tulus. Ruh persaudaraan yang tersemai melalui kebersamaan kami berjalan dan memenuhi banyak tugas-tugas dakwah yang kami jalani. Kami berharap, persaudaraan kami di jalan ini adalah seperti yang digambarkan oleh Rasulullah, tentang golongan orang-orang yang dinaungi Allah di hari kiamat. Di mana salah satu golongan itu adalah : Orang yang saling bercinta karena Allah, bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah SWT.

Keempat, Rabithatu at tanzhim (ikatan organisasi). Perencanaan dan keteraturan langkah-langkah kami di jalan ini, sudah tentu menandakan kami harus pula memiliki sebuah organisasi yang mengatur kami. Dalam organisasi dakwah ini, berlakulah ketentuan sebagaimana orang yang bekerja di dalam sebuah perusahaan, dan harus terikat dengan ragam peraturan yang diberlakukan. Seperti itulah kebersamaan kami di jalan ini.

Kelima, Rabithatu al ‘ahd (ikatan janji). Dijalan ini, kami masing-masing telah mengikrarkan janji. Janji yang paling minimal adalah janji yang tercetus dalam hati kami, dalam diri kami sendiri, kepada Allah SWT. Atau bahkan, juga janji kepada saudara-saudara perjalanan untuk tetap setia dan mendukung perjuangan. Kami terikat dengan dua jenis janji itu.

Yang Melemahkan Ikatan dalam Amal Jama’i

Mengetahui sebab-sebab orang yang meninggalkan amal jama’i bukan perkara mudah. Terlebih bila yang bersangkutan tidak berterus terang tentang latar belakang sikapnya. Perlu pendekatan yang bertahap, sungguh-sungguh, hingga akhirnya bisa ditemukan penyebabnya dan dicarikan jalan keluarnya.

Dalam hal ini, tentu saja musharahah (keterusterangan) serta kejujuran menjadi penting bagi kami dan saudara-saudara kami. Sesungguhnya kepercayaan antara kami akan semakin terbentuk kuat dengan adanya keterusterangan ini. Dari keterusterangan, semua persoalan bisa dicari pangkal masalahnya.

Tsiqah, sebagai Maharnya

Jika kesatuan barisan umat ini dibangun dengan mempersatukan keyakinan, mempersatukan hati, mempersatukan niat, mempersatukan tujuan, dan mempersatukan manhaj (jalan hidup), yang semuanya mengacu pada Al Qur’an dan As Sunnah, maka kebangkitan dan kemenangan umat Islam akan semakin dekat kita raih.

Promosi Penempatan di Jalan Dakwah

Pertama, kami harus bertanya lebih dahulu kepada diri sendiri. Mengapa kami di sini? Untuk siapa amal yang kami lakukan? Dan apa yang kami kehendaki dengan amal ini? “ Barang siapa berperang untuk meninggikan kalimat Allah, maka orang itu berada di jalan Allah.”

Kedua, kami harus menunaikan tugas yang telah dibebankan dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai ketidakpuasan terhadap posisi tertentu membuat malas menunaikan tugas dan kewajiban.

Ketiga, kami harus membiasakan untuk menunjukkan keahlian dan memperkenalkannya dengan baik kepada pemimpin dan saudara-saudara di jalan ini. Tidak memendam pendapat yang menurut kami bermanfaat, meskipun pendapat pimpinan berbeda.

Keempat, terus terang kepada sesama saudara dan pimpinan tentang permasalahan yang ada kaitannya dengan dakwah dan mengusik. Garis lurus itu biasanya lebih dekat dengan kedua titik. Maka ketika kami mengeluarkan uneg-uneg, garis itu menjadi lurus dan membuat kami tenang. Di samping itu, permasalahan menjadi jelas bagi semuanya. Namun jika masalah itu dipendam, tentu kegundahan kian membesar dan bercabang sehingga syetan pun beraksi untuk membesarkannya lagi dengan godaan dan bisikannya. Kami jadi terbakar dari dalam. Lalu hal itu akan mengganggu keimanan dan kejiwaan kami.

Kelima, selalu berharap kepada Allah melalui doa dalam sholat, sujud dan waktu-waktu mulia agar dikaruniakan amal salih yang mendekatkan kita kepada-Nya. Juga agar Allah menuntun kita untuk melakukan kebaikan, kebenaran, dan merubah kami menjadi lebih baik. Agar kami diselamatkan dari fitnah kedudukan dan kepemimpinan di mana kami tidak mampu menunaikannya.

Perjalanan Beraroma Semerbak

“ Dalam hidup ini, setiap orang mempunyai kelompok dan jamaahnya sendiri-sendiri. Dan setiap kelompok mempunyai simbol dan syiarnya sendiri-sendiri. Tapi setiap orang, jika tidak diikat dan dihimpun oleh al-haq, maka ia akan tercerai berai oleh kebatilan. “

Indahnya Kebersamaan di Jalan DakwahBoleh saja orang menganggap keterikatan kami di jalan ini, membawa kerugian materiil untuk kami. Itu karena mereka melihat, banyak energi yang kami kontribusikan untuk kepentingan perjuangan kami di jalan ini. Silahkan saja, jika ada orang yang memandang kami sebagai orang yang tak beruntung karena meluangkan banyak rentang waktu untuk kepentingan orang lain, sementara diri kami sendiri tampak belum mapan. Tapi sebenarmya, melalui jalan ini, kami justru mendapatkan suatu hal yang lain.

Kewajiban Memang Lebih Banyak dari WaktuKami mengerti, tanpa terget-target seperti ini dan tanpa evaluasi yang dilakukan bersama saudara-saudara kami di jalan ini, kami akan terbunuh oleh waktu luang yang kami miliki. Kami juga mengerti bahwa tanpa hambatan kegiatan dakwah yang kami dapatkan di jalan ini, waktu-waktu hidup kami menjadi lebih mungkin terisi dan disibukkan oleh urusan-urusan yang bathil. Karena itulah jalan dakwah telah menolong kami.

Agenda di jalan dakwah begitu banyak mengisi hari-hari kami. Sampai-sampai, tidak sedikit para penempuh jalan ini, yang merasakan kurangnya jumlah hari dalam satu pekan, disebabkan banyaknya kegiatan yang akan mereka lakukan. Di jalan dakwahlah kami lebih mengerti dan menghayati ungkapan Imam Hasan Al Banna rahimahulullah, “al waajibaat aktsaru minal awqaat”. Bahwa kewajiban itu lebih banyak ketimbang waktu yang tersedia.

Memetik Buah Manfaat dari Kelebihan SaudaraMaka, di jalan inilah kami lebih tajam membaca variasi kelebihan-kelebihan itu. Di jalan ini kami merasakan pantulan cermin dari keistimewaan itu, dan mencoba menghayati sabda Rasulullah SAW tentang pintu-pintu surga.

Atmosfir Kesalihan dari Saudara ShalihPertemuan kami dengan mereka, ternyata membawa pengaruh ruhaniyah yang begitu hebat. Kami bisa merasakan suplay energi ruhiyah yang besar saat kami bertemu dan berinteraksi dengan mereka. Kami merasakan adanya suasana batin yang baru, yang mendorong dan memotivasi kami untuk lebih banyak melakukan amal-amal shalih. Perasaan itu, bahkan muncul tanpa mereka harus memberikan nasihat dan tausiyahnya untuk kami. Karena kami sudah biasa merasakan pengaruh aura keshalihan itu, sejak kami melihat, mendengar suara mereka. Sebagaimana Yunus bin Ubaid mengakui kenikmatan besar ketika melihat Al Hasan Al Bashri rahimahulullah. Ia mengatakan “Seseorang bila melihat kepada Al Hasan Al Bashri, akan menerima manfaat dari dirinya, meski orang itu tidak melihat Al Hasan Al Bashri beramal dan tidak melihat ia mengeluarkan ucapan apapun.” (Risalah Al Mustarsyidin, Abi Abdillah Al Haris Al Muhasibi, Hal.60).

Amal Shalih yang TersembunyiPertama, tatkala dalam perkumpulan itu, satu sama lain saling menghiasi dan membenarkan.
Kedua, ketika dalam perkumpulan itu pembicaraan dan pergaulan antar mereka melebihi kebutuhan.
Ketiga, ketika pertemuan mereka menjadi keinginan syahwat dan kebiasaan yang justru menghalangi mereka dari tujuan yang diinginkan. (Al Fawa-id, 60).

Pemimpin yang adil, orang yang hatinya terkait dengan mesjid ketika ia sedang berada di luar masjid sampai ia kembali ke masjid, dua orang yang saling mencinta karena Allah bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah, orang yang berdzikir kepada Allah dalam kondisi seorang diri hingga kedua air matanya menangis, orang-orang yang dipanggil oleh seseorang wanita kaya dan cantik tapi orang tersebut mengatakan: “ Sesungguhnya aku takut kepada Allah rabbul ‘Alamiin”, dan orang yang bersedekah tapi ia menyembunyikan amalnya sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya. (HR Bukhari Muslim).

Amal Shalih Harus Tetap DitampilkanPertama, amal-amal shalih yang diperintahkan Allah swt tidak boleh terhalang karena kekhawatiran riya. Allah swt tetap memerintahkan amal salih itu tetap dilakukan, dengan tetap berupaya ikhlas saat melakukannya.

Kedua, prinsip yang dipegang para salafushalih, adalah penilaian atas yang lahir, tidak menghukumi yang tidak terlihat. Seperti perkataan Umar bin Khattab ra, “Barang siapa yang kami lihat ia melakukan kebaikan, maka ia akan kami sukai. Dan barang siapa yang kami lihat ia melakukan keburukan, kami benci. Meskipun ia mengatakan bahwa dibalik yang lahir itu adalah kebaikan.”

Ketiga, keraguan menampilkan dan melakukan amal-amal shalih karena riya, akan menambah tekanan bagi orang-orang yang melakukan amal shalih.

Keempat, tuduhan dan anggapan bahwa kebaikan adalah riya, adalah perilaku orang-orang munafiq.

Membina Orang Lain Sama dengan Diri SendiriTapi di sisi lain, ternyata interaksi kami dalam jalan dakwah dan upaya kami mengkader serta membina para objek dakwah, mengharuskan kami untuk terus bercermin dan berhati-hati. Kami tidak boleh ceroboh dan mudah melemah. Karena kami tahu dan semakin menyadari bahwa keberhasilan dakwah selalu merupakan turunan dari adanya qudwah dalam kaderisasi dakwah yang kami jalankan. Pelajaran ini bukan hanya kami pelajari dari teori “An naas ‘alaa diini muluukihim” (manusia itu tergantung agama rajanya), tapi kami rasakan langsung dalam aktifitas dakwah dan pembinaan. Maka dari sinilah kami memperoleh pelajaran besar dari keberadaan kami di jalan dakwah. Mendakwahkan orang lain, pada dasarnya adalah mendakwahkan diri sendiri. Menasehati orang lain adalah pada dasarnya menasehati diri sendiri. Membina orang lain di jalan ini, sama dengan membina diri sendiri.

Berpikir Negatif Melemahkan dan Menghancurkan SemangatKami berusaha membicarakan yang baik-baik tentang saudara-saudara kami. Dan berupaya meminimalisir pembicaraan tentang aspek negatif tentang saudara-saudara kami. Sebagaimana ribuan halaman dan ratusan jilid kitab para ulama yang menceritakan kehidupan para sahabat Rasulullah saw serta salafushalih, yang sangat sedikit menceritakan sisi negatif kehidupan mereka, kecuali dalam konteks memberi ibrah dan pelajaran berharga. Para salafushalih, sangat jarang membicarakan kekurangan sahabat dan orang-orang yang mereka kenal. Tentu bukan karena mereka adalah orang-orang suci yang tidak mempunyai catatan negatif, tapi seperti itulah salah satu wujud persaudaraan para salafushalih. Dan karena sikap mereka itulah, yang memompa keyakinan kami serta mendorong semangat dakwah kami.

Ketika Melewati Jalan MendakiBegitulah, jalan dakwah ini mengajarkan bahwa sebaiknya kami melihat kepada diri kami terlebih dahulu, melakukan prasangka baik kepada orang lain, sampai jelas suatu kebenaran itu benar dan kesalahan itu kesalahan.

Mengkaji yang Tersirat dari yang TersuratTapi, pelajaran dakwah ini mengajarkan kami, bahwa langkah pertama yang kami lakukan saat kami mendapatkan situasi yang tidak kondusif dalam kebersamaan ini adalah, memeriksa diri kami terlebih dahulu. Kami tidak mensakralkan kelompok tertentu, atau individu tertentu, tapi kami juga tidak terbiasa meratakan kesalahan atas seluruh kelompok anggota tertentu. Tidak semua individu dalam satu kelompok harus bertanggung jawab atas kekeliruan beberapa individu dalam kelompok tersebut, meskipun kelompok yang keliru itu adalah termasuk jajaran pimpinan di dalamnya. Kami tidak berdiri di atas prinsip “pemimpin selalu benar”. Maka, disaat kami atau ada saudara-saudara kami merasakan kekecewaan bahkan kebencian karena perilaku saudara-saudaranya yang lain di jalan ini, hendaknya tidak menggeneralisir kekeliruan itu pada seluruh individu dalam perjalanan ini. Tidak semua mereka melakukan kesalahan, karena mungkin sekali itu adalah kesalahan individu yang bisa dihitung oleh jari tangan. Dan itu jugalah yang terjadi di zaman sahabat radiyallahu anhu. Kesalahan individu mereka juga tidak melepaskan kehormatan dan kemuliaan generasi sahabat secara keseluruhan yang penuh dengan kebaikan bahkan menjadi simbol keutamaan generasi yang terbaik.

Begitulah, jalan dakwah ini menhajarkan kami sebaiknya kami melihat kepada diri kami terlebih dahulu, melakukan prasangka baik kepada orang lain, sampai jelas suatu kebenaran itu benar dan kesalahan itu kesalahan. Dan jika keburukan yang kami duga itu benar, maka kami harus menempuh mekanisme penyampaian nasihat dengan baik dan benar. Dengan memilih kalimat yang baik, memilih waktu dan tempat yang tepat, menampakkan rasa cinta dan keikhlasan yang tulus, dan semacamnya.

Antara Objektivitas dan SakralismeMenghadapi kemungkaran yang terjadi dalam sebuah organisasi dakwah harus dilakukan secara bertahap, terprogram dan diteliti permasalahannya. Bukan dengan mengembangkan wacana untuk meninggalkan organisasi dakwah yang sebenarnya kami yakin bahwa organisasi itu merupakan jalan kebenaran. Jalan kebenaran tidak boleh kami tinggalkan dengan alasan adanya personil yang tidak sejalan dengan misi kebenaran itu. Karena kami menyimpulkan bahwa lari dari kewajiban meluruskan dan memperbaiki, dengan meninggalkan jamaah dakwah, itu sama sekali tidak memberi maslahat untuk mengusir kerusakan yang ada. Situasinya mirip dengan seseorang dokter yang lari meninggalkan tugas mulianya mengobati pasien yang sedang sakit.

Kesalahan adalah Resiko sebuah AktivitasKesalahan substansial justru terjadi ketika seorang dai mundur dari aktivitas dakwah dan berdiam diri dengan alasan memelihara diri agar tidak menyeleweng dari ajaran Allah. Padahal sebenarnya kemunduran dan diamnya adalah kesalahan dan penyelewengan dari ajaran Allah SWT. Tentu saja kekeliruan itu tetap kami sikapi secara benar. Dalam arti, kekeliruan seorang saudara harus diluruskan dengan adab dan cara-cara yang baik. Dengan tujuan baik, metode yang baik, obkjektivitas dan dengan kelapangan dada di antara kami (penasehat maupun yang dinasehati).

Mundur dari Dakwah, Mungkinkah???Jika olahragawan bisa mengalami masa pensiun karena usianya yang renta dan kekuatan fisiknya yang melemah. Jika seorang pegawai akhirnya menemui saat pensiun karena usianya telah melewati batas ketentuan umum kepegawaian. Jika seorang artis harus meninggalkan pentas karena keterampilan dan keindahan aktingnya telah digerogoti usianya. Tapi para juru dakwah, tidak mengenal kamus pensiun dan berhenti dari panggung dakwahnya. Kami dan saudara kami di jalan ini tidak mengetahui ada kondisi yang mengharuskan kami mundur dari gelanggang dakwah karena faktor usia, kemampuan fisik yang menurun, pikiran yang sulit difungsikan secara maksimal, atau bahkan karena kondisi eksternal yang memaksa kami untuk mundur. Singkatnya, kondisi apapun tidak akan menyebabkan kami ‘uzlah atau pergi meninggalkan jalan ini.

Nasihat adalah Tiang PenyanggaNasihat, kritik, teguran, aspirasi, benar-benar kami perlukan di jalan ini. Siapapun kami. Kami tidak membayangkan andai perjalanan ini berlalu tanpa ada teguran, nasihat, kritik, yang sampai kepada kami. Sesungguhnya mendegarkan nasihat, teguran, maupun kritik itu adalah pahit. Tapi keberadaannya seperti seseorang memakan obat yang tidak enak. Sedangkan manfaatnya adalah pelurusan dan keinsyafan. Sesungguhnya hak yang wajib ditunaikan dari persaudaraan adalah bersungguh-sungguh menyampaikan nasihat dan saling melarang yang tidak baik untuk memelihara kebenaran di antara dua saudara.

Demikianlah, keterpeliharaan persaudaraan kami justru ditopang oleh nasihat. Jika kami mengabaikan nasihat, persaudaraan kami justru akan mudah hancur. Kami di jalan ini, harus berusaha lapang menerima kritikan, masukan, nasihat, dari sesama saudara. Dan kami di jalan ini, juga harus mampu menyampaikan nasihat, kritikan, masukan dengan adab-adabnya untuk saudara-saudara kami.

Kesejukan yang Meringankan LangkahKeletihan itu, akan menjadi beban ketika kami merasakannya sebagai keletihan fisik yang tidak diikuti oleh keyakinan ruhiyah. Maka sesungguhnya kesempitan di jalan ini, pasti menyimpan hikmah luar biasa yang akan tercurah dalam bentuk rahmat Allah swt.

Saling berdo’a di antara sepiJalan dakwah membawa kami tiba di sebuah komunitas do’a. Perkumpulan orang-orang beriman yang saling mendo’akan. Di mana kami mendo’akan saudara-saudara kami. Kemudian saudara-saudara kami pun mendo’akan kami. Inilah persekutuan do’a yang luar biasa, karena kami semua memerlukan do’a dari siapapun, terlebih orang-orang beriman dan shalihin. Kami yakin dengan firman Allah swt. “ Dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya (QS Asy Syu’ara : 26).

Keberkesanan Membaca Sirah Orang-orang ShalihKeterpengaruhan ini sesungguhnya sulit dirasakan oleh mereka yang tidak berada di jalan dakwah. Di antara kami, ada yang sungguh-sungguh tenggelam dalam alur perjuangan mereka sehingga memotivasi kami secara kuat untuk terus berjalan dan melanjutkan perjuangan mereka di atas jalan dakwah. Kami merasakan bahwa apa yang kami alami, adalah bagian dari mata rantai perjuangan yang juga mereka perjuangkan. Jengkal demi jengkal langkah kami, seperti bagian dari perjalanan panjang para pejuang itu hingga menjadikan kami kuat dan bertahan untuk melanjutkan perjalanan.

Kesulitan yang Menambah KekuatanImam Hasan Al banna menjelaskan tentang karakteristik pejuang dakwah adalah orang-orang yang tidak tidur sepenuh kelopak matanya, makan seluas mulutnya, tertawa selebar rahangnya dan menunaikan waktunya dalam senda gurau permainan yang sia-sia. Jika itu yang terjadi, mustahil ia termasuk orang-orang yang menang atau orang-orang yang tercatat sebagai barisan mujahidin. Aku bisa menggambarkan karakter seorang mujahid adalah orang yang telah menyiapkan perbekalan dan persiapannya, yang selalu memikirkan terhadap dakwah yang ada di setiap sudut jiwanya, dan memenuhi relung hatinya. Ia selalu dalam kondisi berfikir, sangat perhatian untuk berdiri di atas kaki yang siap sedia. Jika diseru ia menjawab atau jika dipanggil ia memenuhi panggilan. Langkahnya, ruhnya, bicaranya, kesungguhannya, permainannya selalu berada dalam lingkup medan dakwah yang ia persiapkan dirinya untuk itu.

Bangga dengan Amal ShalihKami memperhatikan sabda Rasulullah saw yang memuji kehadiran orang-orang aneh. “Pada awalnya Islam datang sebagai sesuatu yang aneh dan akan kembali menjadi sesuatu yang aneh . Maka beruntunglah orang-orang yang aneh (al ghuraba). “ Para sahabat bertanya, “Siapakah orang-orang aneh itu, wahai Rasulullah?” Ia menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang melakukan perbaikan ketika manusia berada di dalam kerusakan.” (HR. Muslim).

Menjadi hiduplah nasihat Ustadz Mushtafa Mahsyur dalam jiwa kami. “Jika anda ragu bekerja karena gentar menghadapi kritikan, pasti anda tidak akan bisa bekerja selama-lamanya. Tetapi kerjakanlah apa yang anda yakini kebenarannya, jelas kegunaannya, diridhai oleh Rabbmu dan terpuji di kalangan para ulama yang ikhlas, meskipun anda dibenci dan dimaki sepanjang hidupmu oleh para pendengki, tetapi di antara mereka pasti ada yang senang kepada anda setelah anda meninggal dunia (Mushtafa As Siba’i, Hakadzaa allamatni al hayaah).

Potensi Besar yang Tersingkap di Jalan IniBerapa banyak di antara kami, yang sebelumnya merupakan pribadi yang tak menghargai diri dan tidak mengenal potensi dirinya, tapi kemudian di jalan ini kami menemukan perkembangan potensi diri yang lain, yang sangat kami syukuri. Kedekatan kepada Allah di jalan ini telah membuka saluran-saluran amal dan kontribusi kebaikan yang begitu banyak, lalu membuka kesempatan kami melakukan kebaikan apapun sesuai potensi yang ada. Kami tidak membayangkan, apa jadinya kami bila tidak berada di jalan ini.

Bergerak Karena Diri Sendiri Bukan Orang Lain

Tidak, Kami adalah da’i yang telah memilih jalan dakwah ini sebagai pijakan kaki kami. Sosok figur mungkin saja mempesona kami untuk lebih giat melakukan banyak kontribusi di jalan ini. Tapi bukan itu yang dominan dalam hati kami. Sosok figur juga bisa melakukan kesalahan, dan kesalahan itu juga tidak membuat kami tertahan atau meninggalkan jalan ini. Karena kami telah memilih untuk melangkah di atas kaki kami sendiri, di atas pemahaman dan keyakinan lubuk hati kami sendiri. Ya, sekali lagi, karena kami sendiri yang telah memilih jalan ini.

Peristirahatan, Bernama Terminal Canda

Menempuh perjalanan dakwah, meninggalkan pelajaran pada kami tentang kebutuhan jiwa untuk beristirahat dan tertawa, namun tetap pada porsi dan batasan etikanya. Pertemuan kami dengan sesama saudara di jalan ini, hampir selalu diwarnai dengan senyum dan tertawa. Meskipun begitu, pembahasan yang memerlukan keseriusan berpikir dan ketegasan berpendapat, tidak terganggu oleh dinamika canda dan tertawa kami. Kami merasakan, canda-canda yang berkembang di antara kami bisa memberi energi baru yang mencerahkan jiwa dan pikiran. Bahkan bisa juga berfungsi untuk menghilangkan kebekuan, mencairkan hubungan, mendekatkan kembali ikatan batin yang mungkin saja mulai ternoda oleh debu perjalanan. Senyum dan tertawa, memberikan kesejukan tersendiri dalam ruang kebersamaan kami di jalan ini.

Kami ingin senyum dan tawa dalam kebersamaan ini seperti yang dikatakan Ibnu Umar ra tentang sahabat Rasulullah saw. Ketika ia ditanya, “Apakah para sahabat Rasulullah itu tertawa?” Ibnu Umar menjawab, “Ya, mereka tertawa, tapi keimanan dalam hati mereka laksana gunung yang kokoh.”

Perjalanan ini Tidak Boleh TerhentiSetelah kesulitan melakukan amar ma’ruf dan nahyul mungkar. Setelah menumpahkan segenap upaya, kesabaran dan lipatan kesabaran. Kami harus tetap bertahan dan meneruskan perjalanan ini. Kami tidak boleh tergelincir akibat orang-orang yang tergelincir dari jalan ini. Kami tidak boleh tertipu dengan kekuatan kebatilan, karena kebenaran akan tetap eksis. Jalan ini menunjukkan fakta kepada kami, bahwa perjalanan bersama kebatilan hanya bergulir satu masa. Sementara perjalanan bersama kebenaran itu akan berlangsung hingga akhir masa.

“Tidakkah kalian perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik. Akarnya teguh, dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat” (QS Ibrahim :25)

Wallahua’lam Bish Showaf

| | Read More »

Sssttt....Ada Yang Mengincarmu!

Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan Rasul (Muhammad) dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahNya) jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Q.S. 4: 59)
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud r.a., “Rasulullah Saw pernah membuat garis dengan tangannya, lalu bersabda, ‘Ini jalan yang lurus’. Kemudian, beliau membuat beberapa garis di kanan-kirinya, lalu bersabda,‘Ini semua adalah jalan-jalan yang sesat, pada masing-masing jalan ini ada setan-setan yang mengajak untuk masuk ke sana’ ” (HR. Ahmad, An Nasa’i, dan Ad Darimi. Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Aliran sesat semakin berkembang di Indonesia. Satu per satu aliran sesat itu muncul ke permukaan dan terus menerus mengajak Umat Islam untuk keluar dari agamanya dan masuk dalam kelompok mereka. Sejak tahun 1980-an hingga tahun 2006, tercatat ada 250 aliran sesat yang mengatasnamakan Islam. Data ini didapat dari hasil penyelidikan Aliansi Ummat Islam (ALUMNI). Sungguh, angka yang cukup mencengangkan!

Sebut saja Ahmadiyah, sejak tahun 1889 telah berdiri di India, hingga kemudian pada tahun 1935 masuk ke Indonesia (ada juga yang menyebutkan tahun 1925). Aliran yang mengakui kenabian Mirza Ghulam Ahmad ini telah di cap sesat oleh MUI dalam fatwa MUNAS MUI VII tentang aliran Ahmadiyah. Bahkan, bukan saja oleh MUI, kekufuran aliran Ahmadiyah juga telah menjadi Ijma’ al Majani (kesepakatan bulat forum-forum ulama) di dunia Islam, seperti Organisasi Konferensi Islam (OKI) dalam fatwa Majma’ al-Fiqh al-Islami OKI dan melalui keputusan no. 4 (4/2) dalam Muktamar kedua di Jeddah, Arab Saudi, pada tanggal 10-16 Rabi’ al-Tsani 1406 H/ 22-28 Desember 1985.

Selain Ahmadiyah yang telah membumi, masih banyak aliran yang mengatasnamakan Islam, namun nilai-nilai yang dianutnya sangat jauh dari Alquran dan Sunnah, bahkan  bertentangan dengan Islam. Isu yang marak saat ini adalah NII atau biasa disebut N-11. Sebenarnya, NII telah ada sejak tahun 1949. Dikenal dengan nama Darul Islam (DI). Dalam sejarah, NII dinilai sebagai gerakan ilegal karena ingin mengubah semua sistem ketatanegaraan dengan sistem Islam. Ciri-ciri gerakan NII saat ini dapat kita lihat pada maklumat yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia, yaitu:
  1. Mengingkari rukun iman (iman kepada Allah, malaikat, kitab Suci, rasul, hari akhir, qadha dan qadar) dan mengingkari rukun Islam (mengucapkan dua kalimat syahadat, salat wajib lima waktu, puasa, zakat, dan haji);
  2. Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar`i (Alquran dan Sunah);
  3. Meyakini turunnya wahyu setelah Alquran;
  4. Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Alquran;
  5. Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir;
  6. Mengingkari kedudukan hadis Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sebagai sumber ajaran Islam;
  7. Menghina, melecehkan, dan atau merendahkan para nabi dan rasul;
  8. Mengingkari Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam sebagai Nabi dan Rasul terakhir;
  9. Mengubah, menambah, dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syari’ah, seperti haji tidak ke Baitullah, salat fardu tidak lima waktu;
  10. Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i, seperti mengkafirkan seorang Muslim hanya karena bukan kelompoknya.
Kondisi NII Saat Ini?
Ada tahapan proses yang harus dilalui oleh sang target untuk masuk ke dalam jamaah itu. Pertama, harus mengikuti apa-apa yang ditafsirkan oleh guru, kemudian keluar dari agama Islam yang selama ini dianutnya karena dianggap masih kotor. Selanjutnya, mereka dikader dalam kelompok-kelompok kecil yang tinggal dalam satu wilayah khusus, meninggalkan orang tua dan keluarga yang menurut mereka masih kafir, dengan kewajiban setiap orang untuk merekrut empat anggota baru dan juga iuran wajib sekitar Rp550.000,00 bagaimana pun caranya. Jelas, dalam hal ini nilai tersebut bertentangan dengan Islam.

Menafsirkan Alquran hanya boleh dilakukan oleh para mufassir yang memang ilmunya sudah memadai untuk menafsirkan. Merekalah alim ulama seperti Ibnu Katsir, dll. Ada pula tindakan takfir (mengkafirkan seseorang). Mereka menganggap semua yang di luar jamaahnya adalah kafir sehingga halal darah dan hartanya. Alasan inilah yang kemudian mendasari mereka untuk meninggalkan keluarganya dan bahkan mencuri uang keluarganya untuk membayar semua iuran wajib yang dibebankan kepadanya. Jelas, ini sangat bertentangan dengan Islam. Na’udzubillah min dzalik.

Siapakah Targetnya?
Bersiap-siagalah! Mungkin saja Anda yang menjadi targetnya. Atau mungkin Anda telah diincar sejak lama. Banyak kasus pengkaderan aliran sesat yang targetnya adalah para pemuda. Strategi yang mereka lakukan adalah pendekatan personal dengan cara mengikuti segala aktivitas sang target. Setelah berhasil mengakrabkan diri, target langsung diajak ke sebuah pengajian yang sangat tertutup dengan materi-materi yang membingungkan, bahkan dengan penafsiran Alquran semaunya. Selanjutnya, sang target terus diajak ke pengajian tersebut dengan perintah bahwa pengajian itu rahasia sehingga tidak boleh diberitahukan kepada siapapun, termasuk pada orang tuanya. Begitulah strategi mereka terhadap sang target, hingga kemudian mereka melancarkan proses pengkaderan seperti yang telah dibahas sebelumnya.

Bagaimana Menghindarinya?
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua hal, kalian tidak akan sesat jika berpegang teguh pada keduanya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan Sunnah (Hadits)” (HR. Al Hakim. Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Jelaslah bahwa cara paling utama untuk menghindari ketersesatan adalah dengan berpegang teguh pada Alquran dan Alhadis. Sebagaiman ayat yang disebutkan di awal tulisan, Allah telah menyeru kita untuk kembali kepada-Nya dan Rasul-Nya jika terjadi perbedaan pendapat. Ketika masih diketuai oleh Prof. Buya Hamka, MUI menyerukan agar umat Islam, khususnya pemuda, pelajar, dan seniman yang sedang semangat mencari ilmu agama, menghindari aliran Islam Jamaah serta kembali meningkatkan kajian Alquran dan Alhadis.

Cara selanjutnya adalah mengenali ciri-ciri aliran sesat sehingga kita akan segera sadar saat menjadi target pengkaderan mereka. Perbanyak bergaul dengan orang yang mempunyai kapasitas ilmu agama yang baik agar selalu terjaga dalam lingkungan yang lurus. Selalu konsultasikan kepada ulama atau ustad jika menemukan keanehan. Kritis terhadap segala sesuatu yang mencurigakan juga merupakan salah satu cara menghindarinya. Terakhir, senantiasa berdoa kepada Allah agar selalu ditunjukkan jalan yang lurus, sebagaimana doa yang diajarkan Rasulullah, “Yaa muqollibal quluub, tsabbit qolbii ‘alaa diinik” (HR. Muslim), Artinya: “Ya Allah, zat yang membolak-balikan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu”.

Wallahu a’lam bishshowab.

Oleh : Khairunnisa
Sumber : salam.ui.ac.id

| | Read More »

Ada Apa Dengan BM?

Black Market (pasar gelap) ialah sektor kegiatan ekonomi yang melibatkan transaksi ekonomi ilegal, khususnya pembelian dan penjualan barang dagangan secara tak sah. Barang-barangnya sendiri bisa ilegal, seperti penjualan senjata atau obat-obatan terlarang; barang dagangan hasil curian; atau barang dagangan yang dijual secara gelap untuk menghindari pembayaran pajak atau syarat lisensi, seperti elektronik atau senjata api tak terdaftar, dll.

Sumber dari pasar gelap adalah adanya larangan atau pembatasan barang-barang tertentu oleh pemerintah sehingga terjadi penyelundupan. Larangan atau pembatasan pemerintah bisa bermacam-macam cara. Larangan berarti berurusan dengan hukum pidana (narkoba, bahan peledak, senjata dll). Sedangkan pembatasan bisa berbentuk pajak yang tinggi (elektronik, rokok, kendaraan dll), syarat-syarat yang ketat (maksudnya demi kepentingan kemaslahatan rakyat : kayu), dll.

Sebagai akibat bertambahnya pembatasan pemerintah, harga pasar gelap untuk produksi yang bersangkutan akan bertambah, seperti yang dikatakan pembatasan mewakili berkurangnya penawaran (supply) dan bertambahnya kemungkinan rugi pada bagian penawar, penjual, dan seluruh makelar. Menurut teori penawaran dan permintaan, kekurangan penawaran—membuat produk lebih langka—akan menaikkan harga.

Barang yang diperoleh secara ilegal bisa mendapat 1 atau 2 tingkat harga. Mungkin akan lebih murah daripada harga pasar (resmi) karena penawar tidak menetapkan harga normal disebabkan tidak dikenakannya pajak. Kemungkinan lain, produk yang dipasok ilegal bisa lebih mahal daripada harga normal, karena produk yang dibicarakan sulit didapat (langka) dan mungkin tak tersedia resmi seperti narkoba.

Black market adalah efek langsung dari undang-undang atau peraturan pemerintah dalam pembatasan dan pelarangan terhadap barang-barang tertentu dengan tujuan untuk kepentingan dan kemaslahatan negara. Di samping barang-barang black market yang masuk menghindari dari ketentuan kena pajak beacukai, juga ada kemungkinan barang-barang yang masuk termasuk kategori barang-barang terlarang dan membahayakan. 

Dalam perspektif hukum Islam, praktek transaksi jual-beli termasuk sesuatu yang dibolehkan, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah: 275

“Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba”. 

Ayat ini masih bersifat umum karena tidak semua model transaksi jual-beli dihalalkan demi syariah Islam. Ada beberapa hadits Nabi SAW yang mentakhsish (mengkhususkan) ayat tersebut. 

Ditemukan beberapa hadits Nabi yang menjelaskan transaksi jual beli yang masuk dalam kategori dilarang untuk dipraktekan. Beberapa transaksi jual beli yang dilarang dalam Islam di antaranya adalah: ba’i al-gharar (jual-beli yang mengandung unsur ketidakjelasan, ba’i al-ma’dum (transaksi jual-beli yang objek barangnya tidak ada), ba’i najasy (jual-beli yang ada unsur penipuan dengan menciptakan rekayasa permintaan palsu), talaqqi rukban (transaksi jual-beli yang menciptakan tidak lengkapnya informasi di pasar karena penjualnya dihadang di tengah jalan), transaksi jual-beli pada objek yang diharamkan, dll.

Praktek jual beli black market dilarang karena, pertama: transaksi black market merupakan bentuk transaksi yang ilegal karena barang black market adalah barang yang statusnya tidak diakui di pasar. Barang-barang diselundupkan agar tidak kena bea-cukai. Kedua: transaksi black market akan mengganggu keseimbangan pasar karena harganya lebih murah dari barang yang legal. 

Rasulullah SAW melarang bentuk transaksi yang berakibat pada terganggunya mekanisme pasar. Dari sisi penawaran (supply) kondisi harga pasar akan terganggu. Hal ini sama dengan model transaksi talaqqi rukban yang dilarang oleh Rasulullah SAW karena efeknya sama-sama mempengaruhi mekanisme pasar. Ketiga: ajaran Islam memberikan panduan bagi umatnya untuk menggunakan barang dan produk yang halal. Produk black market tidak jelas (gharar) asal-usulnya. Bisa jadi, produk black market berasal dari praktek yang dilarang dalam Islam, seperti hasil pencurian. 

Jadi, jual-beli barang black market sebaiknya dihindari karena alasan di atas, di samping kegiatan melawan undang-undang dan peraturan pemerintah. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

| | Read More »