Larangan Menceritakan Mimpi Buruk Kepada Orang Lain

Larangan Menceritakan Mimpi Buruk Kepada Orang LainBerikut ini adalah tiga hadits yang menerangkan larangan menceritakan mimpi buruk kepada orang lain disertai penjelasannya yang dikutip dari Kitab Syarah Shahih Muslim karya Imam An-Nawawi.
5884. حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ ح وَحَدَّثَنَا ابْنُ رُمْحٍ أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ عَنْ رَسُوْل الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لِأَعْرَابِيٍّ جَاءَهُ فَقَالَ إِنِّي حَلَمْتُ أَنَّ رَأْسِي قُطِعَ فَأَنَا أَتَّبِعُهُ فَزَجَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ لاَ تُخْبِرْ بِتَلَعُّبِ الشَّيْطَانِ بِكَ فِي الْمَنَامِ
5884. Qutaibah bin Sa’id telah memberitahukan kepada kami, Laits telah memberitahukan kepada kami. (H) Dan Ibnu Rumh telah memberitahukan kepada kami, Al-Laits telah mengabarkan kepada kami, dari Abu Az-Zubair, dari Jabir, dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, bahwasanya beliau pernah bersabda kepada seorang arab badui yang datang kepada beliau. Orang arab badui itu berkata, “Aku bermimpi bahwa kepalaku putus dan aku pun segera mengejarnya” Lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang orang itu seraya bersabda, “Janganlah kamu menceritakan tentang gangguan setan terhadap dirimu di dalam mimpi.”
Takhrij hadits
Ditakhrij oleh Ibnu Majah di dalam Kitab Ta’bir Ar-Ru`ya Bab Man La’iba Bihi Asy-Syaithan Fii Manaamih Falaa Yuhaddits Bihi An-Naas (nomor 3913), Tuhfah Al-Asyraf (nomor 2915).
5885. وَحَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنِ اْلأَعْمَشِ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ جَابِرٍ قَالَ جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُوْل الله رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ كَأَنَّ رَأْسِي ضُرِبَ فَتَدَحْرَجَ فَاشْتَدَدْتُ عَلَى أَثَرِهِ فَقَالَ رَسُوْل الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْأَعْرَابِيِّ لاَ تُحَدِّثْ النَّاسَ بِتَلَعُّبِ الشَّيْطَانِ بِكَ فِي مَنَامِكَ وَقَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدُ يَخْطُبُ فَقَالَ لاَ يُحَدِّثَنَّ أَحَدُكُمْ بِتَلَعُّبِ الشَّيْطَانِ بِهِ فِي مَنَامِهِ
5885. Dan Utsman bin Abi Syaibah telah memberitahukan kepada kami, Jarir telah memberitahukan kepada kami, dari Al-A’masy, dari Abu Sufyan, dari Jabir, dia berkata, “Suatu ketika datanglah seorang arab badui menemui Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sembari berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku bermimpi seolah-olah kepalaku dipukul hingga putus dan menggelinding, lalu aku pun segera mengejarnya.’ Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada orang arab badui itu, ‘Janganlah kamu menceritakan kepada manusia tentang gangguan setan terhadap dirimu di dalam mimpi.” Jabir berkata, “Beberapa waktu setelah itu aku mendengar Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkhutbah dan mengatakan, ‘Janganlah salah seorang di antara kalian menceritakan tentang gangguan setan terhadap dirinya di dalam mimpi.”
Takhrij hadits
Ditakhrij oleh Ibnu Majah di dalam Kitab Ta’bir Ar-Ru`ya Bab Man La’iba Bihi Asy-Syaithan Fii Manaamih Falaa Yuhaddits Bihi An-Naas (nomor 3912), Tuhfah Al-Asyraf (nomor 2308).
5886. وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو سَعِيدٍ اْلأَشَجُّ قَالاَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنِ اْلأَعْمَشِ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ جَابِرٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُوْل الله رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ كَأَنَّ رَأْسِي قُطِعَ قَالَ فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ إِذَا لَعِبَ الشَّيْطَانُ بِأَحَدِكُمْ فِي مَنَامِهِ فَلاَ يُحَدِّثْ بِهِ النَّاسَ. وَفِي رِوَايَةِ أَبِي بَكْرٍ إِذَا لُعِبَ بِأَحَدِكُمْ وَلَمْ يَذْكُرْ الشَّيْطَانَ
5886. Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Abu Sa’id Al-Asyaj telah memberitahukan kepada kami, mereka berdua mengatakan, Waki’ telah memberitahukan kepada kami, dari Al-A’masy, dari Abu Sufyan, dari Jabir, dia berkata, “Suatu ketika datanglah seorang lelaki menemui Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam seraya mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, aku bermimpi seolah-olah kepalaku putus.’ Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pun tertawa lalu bersabda, ‘Jika setan mengganggu salah seorang di antara kalian di dalam mimpinya, maka janganlah ia menceritakannya kepada manusia.” Di dalam hadits riwayat Abu Bakar disebutkan, “Jika salah seorang di antara kalian diganggu” dan tidak menyebutkan, “Setan.”
Takhrij hadits
Telah ditakhrij sebelumnya, lihat hadits nomor 5885.
Tafsir hadits : 5884-5886
Perkataannya, “Dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, bahwasanya beliau pernah bersabda kepada seorang arab badui yang datang kepada beliau. Orang arab badui itu berkata, “Aku bermimpi bahwa kepalaku putus dan aku pun segera mengejarnya” Lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang orang itu seraya bersabda, “Janganlah kamu menceritakan tentang gangguan setan terhadap dirimu di dalam mimpi.”
Al-Maziri mengatakan, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengetahui bahwa mimpi orang arab badui itu adalah mimpi kosong kemungkinan besar berasal dari wahyu, atau dari sebuah indikasi yang terdapat dalam mimpi orang itu, atau juga dari mimpi buruk orang tersebut yang berasal dari gangguan setan yang membuatnya sedih.”
Beberapa pakar tafsir mimpi di dalam kitab-kitab karangan mereka menafsirkan berkenaan dengan mimpi melihat kepala putus dengan mengatakan,
“Orang yang bermimpi seperti itu merupakan sebuah petunjuk bahwa dia akan kehilangan nikmat yang dia miliki, atau berpisah dengan orang yang lebih tinggi derajatnya daripada dirinya, atau kekuasaannya akan berakhir, dan kondisinya akan berubah di segala sisi kehidupannya. Kecuali jika dialami oleh seorang budak, maka mimpi itu sebuah pertanda dia akan merdeka. Jika dialami oleh orang sakit maka itu sebuah pertanda dia akan sehat. Jika dialami oleh orang yang dililit hutang maka itu sebuah indikasi bahwa hutangnya akan lunas. Jika dialami oleh orang yang belum menunaikan ibadah haji, maka itu sebuah indikasi bahwa dia akan segera menunaikan ibadah haji. Jika yang bermimpi seperti itu orang yang sedang bersedih, maka itu adalah petunjuk bahwa dia akan bergembira. Jika yang bermimpi adalah orang yang sedang ketakutan, maka itu merupakan petunjuk bahwa dia akan aman.”
Wallahu A’lam.
sumber : fimadani.com

| | Read More »

Hukum Membuat Tato

    Bertato yang dalam Bahasa Arab disebut al wasym ( الوشم ) adalah perbuatan yang hukumnya haram dalam agama Islam, berdasarkan beberapa hadits shahih, yang diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Abdullah ibnu Mas’ud,

لعن الله الواشمات و المستوشمات

“Allah melaknat wanita-wanita yang menato dan meminta untuk ditato”.

Demikian dinyatakan oleh Ustadz Agung Cahyadi Selain itu ada hadits serupa:
“Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam melaknat perempuan yang mentato dan minta ditato, dan yang mengikir gigi dan yang minta dikikir giginya.” (Riwayat Thabarani)
Tato, yaitu memberi tanda pada muka dan kedua tangan dengan warna biru dalam bentuk ukiran. Sebagian orang-orang Arab, khususnya kaum perempuan, mentato sebagian besar badannya. Bahkan sementara pengikutpengikut agama membuatnya tato dalam bentuk persembahan dan lambang-lambang agama mereka, misalnya orang-orang Kristen melukis salib di tangan dan dada mereka.
Perbuatan-perbuatan yang rusak ini dilakukan dengan menyiksa dan menyakiti badan, yaitu dengan menusuk-nusukkan jarum pada badan orang yang ditato itu. Semua ini menyebabkan laknat, baik terhadap yang mentato ataupun orang yang minta ditato.
Terlanjur Bertato
Asatidz Pusat Konsultasi Syariah menyatakan bahwa sebenarnya tato yang dilukiskan di atas kulit manusia tidak menutupi kulit dari air wudhu, sehingga tidak ada masalah dengan sah tidaknya wudhu` dan shalat. Berbeda dengan cat yang membentuk lapisan tersendiri sehingga menghalangi tersntuhnya kulit dari air wudhu atau air mandi janabah.
Artinya wudhu dan shalat orang yang tubuhnya ditato tetap sah. Hanya saja kalau bisa dihilngkan tanpa membahayakan tubuh maka sebaiknya dihilangkan. Namun jika upaya untuk menghilangkan tato tadi bisa membahayakan maka hal itu tidak perlu dilakukan. Yang harus dilakukan adalah bertobat, meminta ampunan, serta berusaha menutup bagian tubuh yang ditato.
Sedangkan tato itu sesungguhnya sudah merupakan bagian dari kulit dimana di dalamnya telah dimasukkan zat yang dapat mewarnai kulit itu menjadi gambar yang tidak bisa dikelupas atau dihapus. Gambar tato itu adalah kulit itu sendiri.
Sehingga, menurut  Ustadz Agung Cahyadi, hukum bermakmum dibelakang seorang yang bertato, akan tergantung pada kondisi tatonya tersebut , jika ia tidak menghalangi sampainya air kekulit tubuhnya pada saat bersuci, maka shalatnya insya Allah sah, sehingga shalat yang bermakmum dibelakangnya juga sah karenya. Dan jika tatonya bisa menghalangi sampainya air kekulit tubuhnya, maka shalatnya tidak sah, demikian juga yang shalat dibelakangnya akan menjadi tidak sah
Orang yang sudah menyadari dosanya dalam masalah tato, cukup baginya melakukan tobat dengan taubatan nasuha. Yaitu dengan menyesal, menjauhi perbuatan tersebut, serta bertekad untuk tidak mengulanginya. Ia tidak wajib membersihkan tato yang terdapat di tubuhnya jika memang sulit dibersihkan, sebab itu akan menyiksa diri untuk kedua kalinya. Yang penting ia menyesali diri dan menutupi tato yang terdapat di tubuh.
Kalau kemudian ia meninggal, maka diperlakukan sebagaimana muslim lainnya dengan dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dikuburkan.
Rep/Red: Shabra Syatila
Sumber: syariahonline.com

| | Read More »

Inilah Jurus Handal Menebas Malas

Sosok yang dinamis, aktif, produktif, tangguh, semangat, ceria, tangkas, gesit, gagah, bersih, kuat, sepertinya pas banget ya buat ngegambarin karakter pribadi seorang muslim. Kebalikannya adalah stagnan, malas, cemberut, pasif, lemot, letoy, kucel,  lemah. Duuh, sayang banget kayaknya kalau karakter yang kedua ini malah lebih dominan ada dalam diri kita.
Dunia kita adalah dunia penuh karya. Kalau lebih sering tersia-siakan dengan membiarkan sifat negatif terus-menerus menggerogoti produktifitas kita, alamat bakal terbenam dalam keterpurukan.

Memang sih, setiap kita dilahirkan pasti memiliki kekurangan di balik kelebihan yang berharga luar biasa. Tapi bukan berarti kita malah asyik bercengkerama dengan kekurangan diri yang semestinya diminimalisir kan? Bahkan saking asyiknya, sampai-sampai lupa dengan potensi kelebihan yang Allah anugerahkan kepada kita.
Enggak sedikit lho -yang sampai saat ini- seseorang bahkan belum menemukan apa potensi diri yang ia miliki. Padahal potensi itu pasti ada. Potensi yang sungguh sangat luar biasa berharganya. Lihat saja betapa banyak kaum yang menjerumuskan diri dalam kubangan narkoba, tawuran, dugem, rokok, hura-hura. Ya, itu saja yang setiap hari memenuhi kehidupan mereka. Sebab mereka sudah kecanduan dengan hal-hal yang demikian sehingga tidak mudah untuk ditinggalkan.
Awal dari keterpurukan tersebut bisa jadi bahkan sangat mungkin disebabkan oleh kemalasan yang diam-diam membujuk dan menguasai diri. Malas memulai, malas bangkit, malas bergerak, malas berusaha, malas berkorban, malas bertindak, malas ibadah, malas makan, malas minum, malas bersih-bersih, malas mandi, malas baca, malas nulis, malas belajar, malas mengendalikan hawa nafsu, malas senyum, malas olahraga, dan malas-malas yang lainnya. Banyak banget ternyata yah?
Tidak dipungkiri bahwa setiap kita mungkin pernah merasakan yang demikian. Berarti hal yang wajar dong? Ya memang wajar jika di suatu waktu kita dihinggapi oleh rasa malas, namun tidak larut di dalamnya dong. Yang enggak wajar tuh kalau terus menerus bermalas-malasan. Pemalas namanya. Rugi.
Nah, Sahabat. Yuk, kita cari tau tentang bagaimana caranya menebas rasa malas agar kita tidak terpuruk! Simak ya yang berikut ini.

Orang Penting

Benarkah hanya presiden, menteri, duta besar, insinyur, profesor, dosen, kepsek, dokter, pilot, dan profesi besar lainnya saja yang disebut sebagai orang penting? Cleaning service, office boy, pembantu rumah tangga, tukang sampah, pemulung, apakah mereka bukan orang penting? Bagaimana dengan diri kita yang belum punya profesi semacam itu?
Bagi orang cerdas, penting atau tidak pentingnya seseorang bukanlah ditilik dari tingkatan profesi semata. Sangat sempit cara berpikir yang hanya melihat seseorang dari sisi ini saja.
Lhah, apa sih hubungannya hal ini dengan mengusir rasa malas? Begini ceritanya.
Sadarilah, bahwa dirimu pun sesungguhnya adalah orang penting! Bagaimana tidak? Dahulu kala Allah memerintahkan kepada malaikat dan syaitan untuk tunduk bersimpuh sujud di hadapan manusia yakni Nabi Adam. Kita ini adalah keturunan Nabi Adam bukan? Kita dimuliakan oleh pencipta kita.
Dahulu kala juga Allah pernah mengabarkan kepada para malaikat bahwa Dia akan menciptakan khalifah di muka bumi. Siapa yang dimaksud? Ya kita ini. Manusia. Ternyata ya, kita dicipta di dunia untuk menjadi khalifah fil ardh. Keren nggak tuh?! Lantas apakah khalifah bukan orang penting?
“Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu berkata kepada malaikat “sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang Khalifah di muka bumi..” (QS. Al-Baqarah [2]:30).
Dari ayat tersebut terlihat bahwa manusia diberi kekuasaan untuk mengolah dan memakmurkan alam ini –dalam rangka beribadah kepada Allah—sehingga akan membedakannya dengan mahluk lain dalam kedudukan dan tanggung jawab. Konsekuensi dari kedudukan dan tanggung jawab tersebut , manusia akan diminta pertanggungjawaban atas segala amal yang dilakukannya dimuka bumi ini sebagai khalifah fil-ardh.
Dari Ibnu Umar RA. Berkata dari nabi SAW sabdanya : “ketahuilah ! Tiap-tiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya..” (HR. Muttafaq Alaih).
Memimpin itu butuh ilmu, butuh kreatifitas, butuh bergerak, butuh keberanian. Nah, kalau kita meleburkan diri dalam lautan malas, bakal jadi pemimpin yang gimana tuh yak? Ilmu nggak punya, kratifitas minim, ongkang-ongkang melulu, pengecut. Wah, kebayang deh gimana menyebalkannya sosok pemimpin yang demikian. Mau jadi yang seperti ini? Oh, tentu tidak!
Padahal tuh, pada masanya nanti kita akan dimintai pertanggungjawaban atas tugas ini. Sudahkah kita menjadi pemimpin yang baik, yang adil, yang amanah? Minimal dalam memimpin diri sendiri. Lebih-lebih dalam memimpin orang lain, misal dalam organisasi, keluarga, atau lingkungan kita dengan segala sumber daya alamnya yang melimpah ruah.
Selain itu, kita juga diciptakan untuk menjadi abdi. Abdi bagi siapa? Bagi yang menciptakan kita, Sobat. Apakah sebagai abdi juga menjadi indikasi bahwa kita masih tetap orang penting?
“Dan tidaklah Aku ciptakan seluruh jin dan seluruh manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu“. (QS : Adz Dzariyat [51] :56).
Yang namanya abdi Allah berarti kita harus menjadikan seluruh hidup kita hanya untuk ibadah. Makan, minum, mandi, tidur, membaca buku, menulis, olahraga, tersenyum, menangis, belajar, bekerja, mencuci, dan aktivitas keseharian kita lainnya adalah ibadah sebagaimana sholat, puasa, zakat, dsb. Nah, kalau malas-malasan termasuk ibadah bukan yak? Jelas deh jawabannya. Lalu, apa hubungannya ibadah dengan orang penting? Dengan semangat ibadah pastinya kita akan disayang olehNya dong ya? Penting nggak tuh?? Wow, Penting Banget!! So, enggak ada orang penting yang pemalas bukan?

Mimpi Besar

Ingatlah, sahabat bahwa kita punya mimpi. Kita punya cita-cita. Kita punya harapan. Kita punya target. Kita ada bukan sekedar untuk menghabiskan nafas yang sudah dijatah masanya. Bukan sekedar melangkah tanpa arah, tanpa pegangan, tanpa tujuan. Kita terlahir untuk menjadi pemenang yang punya tujuan besar dan saat ini sedang kita perjuangkan. Kita bukan pengangguran yang waktu-waktunya habis untuk bersantai-santai dalam kemalasan.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr [59]:18-19)
Apa mimpimu, Sahabat? Pasti ada jawabannya kan? Lupa ya? Supaya enggak lupa, tulislah semua mimpi kita di atas kertas. Ya, mimpi besar! Mimpi yang bahkan tampak tidak mungkin terwujud di mata orang lain. Mimpi yang akan bernilai ibadah di hadapanNYA. Mimpi yang tidak semata bernilai duniawi, tapi  jauh melesat ke alam ukhrawi. Tak masalah apa kata mereka. Tulis sebanyak-banyaknya mimpi yang ingin kita gapai! Lalu perjuangkan satu per satu untuk meraihnya! Semuanya sangat mungkin untuk terwujud nyata. Insya Allah.
Jika hidup kita sudah jelas ke mana arah tujuannya maka optimisme, ikhtiar sempurna,  dan tawakkal harus menyatu dalam jiwa kita. Kalau ada malas yang hinggap, segera tebas dengan bayangan mimpi besar yang akan segera terwujud. Jangan sampai lenyap dilebur bisikan setan berupa godaan untuk menuruti rasa malas dan enggan. Jika tidak, maka bersiaplah untuk kalah sebelum bertanding, atau rugi selamanya. Dan setan pun akan terbahak-bahak mentertawakan kita. Akhirnya mimpi besar itu tinggalah sebagai tulisan yang tergeletak tanpa makna, tanpa suara, tanpa wujud nyata. Sayang sekali! Hanya disebabkan oleh m.a.l.a.s !!

 Sepasang Jiwa Lelah

Ketika balita mungkin kita sering ngompol, sering nangis, sering rewel, belum bisa makan sendiri, mesti dimandiin, sering minta gendong, minta jajan. Setelah agak besar kita disekolahin, dipenuhi kebutuhan sehari-hari, dibeliin buku, tas, sepatu, pakaian. Wah pokoknya banyak banget deh. Lalu kita sering membantah, membentak, marah, ngomel, nyuruh-nyuruh, menuntut ini itu, dan seabreg perlakuan lainnya. Padahal, mereka hingga kini terus memeras keringat, terus mendoakan, terus berkorban, meski dalam kelelahan yang sangat. Lelah yang mungkin tidak pernah mereka ingin tampakkan. Tapi lihatlah garis muka mereka yang tampak semakin jelas dan tua. Lelah dalam pikiran maupun raga. Siapakah mereka? Merekalah kedua orangtua yang telah merawat kita. Merekalah sepasang jiwa lelah itu.
“Allah telah menetapkan agar kalian tidak beribadah melainkan kepada-Nya; dan hendaklah kalian berbakti kepada kedua orang tua.” (Al-Israa : 23)
Jika keduanya masih ada saat ini, syukurilah dan bahagiakan mereka dengan do’a dan gemilangnya karya kita, sebelum terlambat. Jika salah satu atau keduanya telah tiada, tetap berbaktilah kepada mereka dengan menjalin hubungan baik dengan sahabat mereka ketika di dunia, juga dengan doa dan karya hebat sebagai bukti cinta pada mereka. Bisakah kerja besar ini diperoleh dengan terus memelihara rasa malas? Kasihan kedua raga renta itu jika sampai mereka merasa sia-sia memiliki anak yang tak punya sesuatu untuk diharapkan. Malang sekali sepasang jiwa lelah itu, jika pengorbanan mereka berpuluh tahun hanya berbalas sesuatu yang hampa mengecewakan.
“Maukah kalian kuberitahukan dosa besar yang terbesar?” Para Sahabat menjawab, “Tentu mau, wahai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.” Beliau bersabda, “Berbuat syirik kepada Allah, dan durhaka terhadap orang tua.” Kemudian, sambil bersandar, beliau bersabda lagi, “..ucapan dusta, persaksian palsu..” Beliau terus meneruskan mengulang sabdanya itu, sampai kami (para Sahabat) berharap beliau segera terdiam. (Al-Bukhari dan Muslim)
Ayo bangkit, singkirkan malas, senyumkanlah mereka!

Tiga Pengawas

Ada dua makhluk, ada satu Dzat. Dua makhluk tersebut tidak pernah salah mencatat, tidak lalai melihat, tidak enggan untuk terus mendokumentasikan apapun gerak-gerik kita. Keduanya adalah malaikat pencatat amal yang selalu membuntuti kita saban hari. Rakib a.s dan Atid a.s. Pencatat amal baik dan amal buruk. Bersamaan dengan itu, ada satu Dzatyang tidak pernah pula tidak mengetahui apa yang telah, sedang, dan akan kita lakukan, yang tersembunyi dalam hati maupun yang terungkapkan. Dia lah Allah swt Yang Maha Melihat lagi Maha Mengetahui.
Dua malaikat dan satu Dzat yakni Allah Yang Esa. Merekalah tiga pengawas yang tak pernah lengah menilai kinerja kita. Kita lagi semangat, lagi malas, sedang berbuat baik, sedang bermaksiat, sedang berkata sesuatu dalam hati, semuanya ada dalam penilaian-Nya dan dicatat oleh dua malaikat yang super teliti. Iih, malu banget ya kalau kerja kita asal-asalan!
“(Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lainnya duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” [QS. Qaaf: 17-18]
“…Sesungguhnya Allah Maha Mengawasi kamu sekalian” (QS an-Nisaa’:1).
Semuanya  tertulis, dan nanti akan diberikan laporan catatan itu kepada kita saat di padang mahsyar. Rona ceria penuh optimisme akan spontan  menghiasi wajah kita apabila ternyata buku catatan amal itu tersambut oleh tangan kanan kita. Dan kita akan bersiap menuju pintu syurga. Masya Allah, beruntung sekali.
Sementara, ada juga yang berwajah muram, sedih, dan super takut sebab buku catatan amal itu terlempar ke arah tangan kirinya atau balik punggungnya.  Inilah orang yang sangat merugi. Dunianya hanya digunakan untuk kesia-siaan alias bermalas-malasan, bukan untuk sibuk beraktivitas yang bermanfaat. Dan ia pun harus siap untuk terseret ke dalam lubang yang berisi kobaran api bergejolak, yakni neraka. Dahsyat banget ya! So, yuk kita tetap bersemangat dalam setiap aktivitas agar kita dapat nilai yang baik dari sang tiga pengawas. Singkirkan M-A-L-A-S!

Sosok Inspiratif

Orang-orang yang telah berhasil menikmati sukses kayaknya pas banget untuk jadi sosok inspiratif bagi kita. Siapa sih yang enggak pengen hidup dalam gemilang sukses? Agar kita nggak banyak bermalas-malasan, oke banget tuh kalau kita mau baca profil dan jejak hidup para insan sukses. Yakin banget deh, mereka bakal menginspirasi kita untuk segera berbenah diri dan berbuat lebih banyak lagi untuk hidup yang sesaat ini.
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, bagi orang yang mengharap Allah dan hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah” (QS Al-Ahzab [33]: 21).
“Kamu wajib mengikuti sunnahku dan sunnah sahabat Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk sesudahku.” (HR. Ath-Thabrani)
Suksesnya mereka tentu tidak diraih dengan asal-asalan tanpa perjuangan. Setelah mengetahui jalan juang mereka dan cara mereka meraih kesuksesan kayaknya si rasa malas bakal lari terbirit-birit karena takut dan minder. Berikutnya kita akan melanjutkan meraih mimpi besar yang sudah kita tuliskan. Siap?? Pastiinyaa!

Estafet Kerja

Ketahuilah, Sahabat. Bahwa Allah sudah mengisyaratkan kita agar tidak menjadi pemalas. Dia memerintahkan kepada kita agar jika telah selesai pekerjaan yang satu maka kita harus bersegera melakukan pekerjaan yang lain dengan sungguh-sungguh.
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”. (QS. Alam Nasyrah:7)
Sebagian ahli tafsir menafsirkan apabila kamu (Muhammad) telah selesai berdakwah maka beribadatlah kepada Allah; apabila kamu telah selesai mengerjakan urusan dunia maka kerjakanlah urusan akhirat, dan ada lagi yang mengatakan: Apabila telah selesai mengerjakan shalat berdo’alah.
Sebut saja estafet kerja. Jadi tidak ada alokasi waktu untuk menjatuhkan semangat dengan malas-malasan. Bukankah kita sudah memiliki jadwal harian yang mesti kita penuhi. Mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Mestinya semua punya waktu tersendiri untuk dilakukan. Tahu kan konsep kelembamam dalam fisika? Benda yang dalam keadaan diam cenderung malas untuk memulai geraknya. Begitu pun kita. Kalau sudah terjebak dalam diam tanpa aktivitas ya sudahlah, selanjutnya kita bakal malas memulai lagi dan memerlukan energi yang jauh lebih besar untuk membangkitkan semangat kita seperti semula. Lebih menyusahkan bukan?

Charger Diri

Namanya juga manusia kadang juga tetep aja ada yang namanya badmood. Enggak mau ngapa-ngapain. Kalau begini berarti kita dah lowbatt nih. Perlu dicharge, Sobat. Kemana yak nyolokinnya? Hal lain yang bisa menjadi charger diri untuk membangkitkan semangat dan membuang malas antara lain dengan:
  • Memberi dan atau meminta nasehat.
  • Relaksasi. Maksudnya, kita luangkan sejenak waktu untuk mengendorkan saraf-saraf kita yang tegang akibat aktivitas yang padat. Misal dengan berenang, membaca, berbaring sejenak sambil dzikir, atau hobi kita lainnya yang menyegarkan pikiran. Ingat, sejenak saja lho! Itu pun dengan pilihan aktivitas yang tepat.
  • Berdo’a. Setiap do’a pasti akan ada jawabannya. Jadi jangan berhenti berdo’a agar dihilangkan sifat malas dan lemah dari diri kita.
“Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat. (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian).” (HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706)
Mudah, kan?? Enggak percaya? Lakukan saja, dan kita akan dapati buktinya! Yakin bisa! salam sukses! insya Allah..

Oleh: Istriani Shalihah – Bogor

| | Read More »

Puasa & Lebaran Bisa Berbeda Hari di Negeri yang Berbeda




Muhammad bin Abi Harmalah menceritakan dari Kuraib bin Abi Muslim (w. 98 H),
أَنَّ أُمَّ الْفَضْلِ بِنْتَ الْحَارِثِ بَعَثَتْهُ إِلَى مُعَاوِيَةَ بِالشَّامِ قَالَ فَقَدِمْتُ الشَّامَ فَقَضَيْتُ حَاجَتَهَا وَاسْتُهِلَّ عَلَىَّ رَمَضَانُ وَأَنَا بِالشَّامِ فَرَأَيْتُ الْهِلاَلَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ ثُمَّ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فِى آخِرِ الشَّهْرِ فَسَأَلَنِى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ رضى الله عنهما ثُمَّ ذَكَرَ الْهِلاَلَ فَقَالَ مَتَى رَأَيْتُمُ الْهِلاَلَ فَقُلْتُ رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ. فَقَالَ أَنْتَ رَأَيْتَهُ فَقُلْتُ نَعَمْ وَرَآهُ النَّاسُ وَصَامُوا وَصَامَ مُعَاوِيَةُ. فَقَالَ لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلاَ نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلاَثِينَ أَوْ نَرَاهُ. فَقُلْتُ أَوَلاَ تَكْتَفِى بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَصِيَامِهِ فَقَالَ لاَ هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم .
Bahwa Ummul Fadhl binti Al Harits[1] mengutusnya untuk menemui Muawiyah di Syam. Kuraib berkata, “Ketika sampai di Syam, aku pun menyelesaikan keperluan Ummul Fadhl. Dan saat masuk Ramadhan, aku masih di Syam. Aku melihat bulan (hilal) pada malam Jum’at. Kemudian, pada akhir Ramadhan, aku telah datang kembali di Madinah. Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma menanyakan kabarku dan menyinggung soal hilal. Dia berkata; ‘Kapan kalian melihat hilal?’
Aku berkata; ‘Kami melihatnya pada malam Jum’at.’ Ibnu Abbas berkata; ‘Kamu melihatnya sendiri?’ Aku berkata; ‘Ya, dan orang-orang juga melihatnya. Mereka puasa dan Muawiyah juga puasa.’ Ibnu Abbas berkata; ‘Tetapi kami melihatnya malam Sabtu, dan kami sekarang masih puasa hingga kami menyempurnakannya tiga puluh hari atau melihat bulan.’ Aku pun berkata; Apa kamu tidak cukup dengan rukyah Muawiyah dan puasanya?’ Kata Ibnu Abbas; ‘Tidak. Seperti inilah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyuruh kita.”
Takhrij
Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim dari Yahya bin Yahya, Yahya bin Ayub, Qutaibah bin Said, dan Ali bin Hujr, dari Ismail bin Ja’far dari Muhammad bin Abi Harmalah dari Kuraib bin Abi Muslim.[2]
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud (1985), At Tirmidzi (629), An-Nasa`i (2084), Ahmad (2653), Ad-Daraquthni (2234), Ibnu Khuzaimah (1810), Al Baihaqi dalam Al Ma’rifah (2656), dan Ath Thahawi (410); juga dari Kuraib bin Abi Muslim.
Hikmah dan Ibrah
  • Hadits ini menyebutkan bahwa perbedaan 1 Ramadhan dan 1 Syawal sangat mungkin terjadi di negeri yang berbeda atau berjauhan letaknya.
  • Bersama penduduk Syam, Kuraib melihat hilal Ramadhan pada malam Jum’at. Sementara di Madinah, Ibnu Abbas dan penduduk Madinah melihat hilal Ramadhan pada malam Sabtu.
  • “Kami sekarang masih puasa hingga kami menyempurnakannya tiga puluh hari atau melihat bulan,” maksudnya jika tidak melihat hilal pada tanggal 29 Sya’ban, Ibnu Abbas dan penduduk Madinah akan menyempurnakan puasa Ramadhan sebanyak 30 hari, sebagaimana yang diperintahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
  • “Tidak. Seperti inilah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyuruh kita.” Maksudnya, Ibnu Abbas dan penduduk Madinah tidak harus mengikuti Muawiyah dan kesaksian penduduk Syam, karena yang diajarkan Nabi dalam mengawali dan mengakhiri puasa adalah dengan melihat bulan. Sementara mereka melihat bulan pada malam Sabtu, bukan malam Jum’at sebagaimana penduduk Syam.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini dalam beberapa kelompok:
Pertama; Setiap negeri bisa berbeda tergantung rukyah mereka. Dalam Shahih Muslim dari hadits Ibnu Abbas ada yang menguatkan pendapat ini. Demikian diceritakan Ibnul Mundzir dari Ikrimah, Al-Qasim, Salim, dan Ishaq. Sedangkan At-tirmidzi menceritakannya dari Ahlul ilmi dan tidak menceritakan yang lain. Sementara Al-Mawardi menceritakan salah satu pendapat dari madzhab Syafi’i.
Kedua; Apabila hilal dilihat di suatu negeri, maka ia berlaku atas negeri-negeri yang lain semuanya. Ini adalah pendapat yang masyhur dari madzhab Maliki. Tetapi Ibnu Abdil Barr menceritakan ijma’ yang sebaliknya, dia mengatakan bahwa para ulama sepakat yang demikian tidak mesti berlaku di negeri-negeri seperti Khurasan dan Andalusia. Al-Qurthubi berkata; ‘Para syaikh kami mengatakan jika rukyatul hilal tampak jelas di suatu tempat, kemudian disampaikan ke negeri lain dengan kesaksian dua orang, maka negeri tersebut harus puasa.’ Ibnul Majisyun berkata; ‘Suatu negeri tidak harus puasa dengan kesaksian penduduk negeri lain, melainkan dengan kesaksian penduduk negeri itu sendiri. Namun jika penguasa tertinggi telah menetapkannya, maka ketetapan ini berlaku atas semua negeri yang berada dalam wilayahnya, karena negeri-negeri tersebut terhitung sebagai satu negeri di bawah kekuasaannya.’ Sebagian madzhab Syafi’i mengatakan, jika negeri-negeri itu berdekatan, maka hukumnya satu. Adapun jika berjauhan, maka ada dua pendapat; tidak wajib menurut mayoritas ulama, sedangkan Abu Ath-Thayyib dan sekelompok ulama mengatakan wajib. Al-Baghawi mengatakan, (yang terakhir) ini adalah pendapat Asy-Syafi’i.
Selanjutnya, ketentuan tentang ukuran jauh juga ada beberapa pendapat; Yang pertama, berdasarkan ikhtilaful mathali’ (perbedaan tempat munculnya hilal). Demikian pendapat orang-orang Irak dan Ash-Shaidalani, yang dishahihkan oleh An-Nawawi dalam Ar-Raudhah dan Syarh Al-Muhadzdzab. Kedua; berdasarkan jarak qashar shalat. Demikian pendapat Imam Al-Baghawi yang dishahihkan oleh Ar-Rafi’i dalam Ash-Shaghir dan An-Nawawi dalam Syarh Muslim. Ketiga; berdasarkan perbedaan wilayah. Keempat; setiap negeri yang bisa melihat hilal dengan jelas tanpa ada halangan, maka ia wajib puasa. Sedangkan yang tidak melihat hilal, tidak harus mengikuti yang lain.[3] Demikian diceritakan dari As-Sarakhsi. Yang kelima, yaitu pendapat Ibnul Majisyun yang sudah disebutkan di atas. Dalilnya, adalah kewajiban untuk puasa dan berbuka bagi orang yang melihat hilal sendirian, sekalipun perkataannya tidak bisa dijadikan pegangan yang lain. Ini adalah pendapat imam madzhab yang empat dalam masalah puasa. Namun mereka berbeda pendapat dalam masalah berbuka. Asy-Syafi’i mengatakan; dia berbuka diam-diam. Sedangkan mayoritas yang lain mengatakan; meneruskan puasanya sebagai sikap kehati-hatian.”[4]

[1] Ummul Fadhl, yaitu Lubabah binti Al Harits Al Hilaliyah Radhiyallahu ‘Anha, istri Al Abbas bin Abdil Muththalib, saudari Maimunah Ummul Mukminin.
[2] Shahih Muslim, Kitab Ash Shaum, Bab Bayan Anna Likulli Balad Ru`yatahum, hadits nomor 2580.
[3] Sekadar contoh sederhana saja: Jika Jawa Timur dan Jawa Barat melihat hilal, maka wajib puasa. Sedangkan Jawa Tengah yang tidak melihat hilal, tidak wajib puasa, meskipun Jawa Tengah terletak di antara Jawa Timur dan Jawa barat. Wallahu a’lam.
[4] Lihat Fath Al Bari Syarh Shahih Al Bukhari/Ibnu Hajar Al-Asqalani/Jilid 6/Hlm 149, penjelasan hadits nomor 1774. Program Al-Maktabah Asy Syamilah.
sumber : fimadani

| | Read More »

Ujian Nasional, Sejumlah Siswa di Kudus Minta Jawaban ke Dukun

Banyak cara dilakukan sejumlah siswa dan orangtua siswa di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, dalam persiapan mengikuti ujian nasional. Salah satunya adalah mendatangi paranormal alias dukun.

Mereka meminta kunci jawaban Ujian Nasional kepada paranormal. Ada juga yang alat tulisnya dimantrai paranormal atau dukun.

“Dari hasil temuan kami, paranormal itu mendapat Rp 7,5 juta untuk kunci jawaban satu mata pelajaran yang diujikan,” kata Rum Akib, Ketua Forum Guru Peduli Pendidikan Kabupaten Kudus, Senin (16/4/2012).

Rum Akib menambahkan, hal itu menunjukkan cara berpikir irasional masih ada di kalangan orang Jawa. Seharusnya, sikap itu perlu ditempatkan dalam porsinya, bukan pada saat ujian nasional.

Bahkan tindakan ini bisa dikategorikan sebagai syirik, yang merupakan dosa tak terampuni kecuali dengan taubat nasuha.

Sumber : fimadani.com

| | Read More »

Bank Syariah Paling Syariah?


Penilaian kesyariahan Bank Syariah di Indonesia salah satunya dapat diukur dari Laporan Tahunan Dewan Pengawas Syariah (DPS). Analisis Laporan Tahunan ini, dibuat oleh Irawan Febianto, Dosen Manajemen dan Keuangan Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Padjadjaran. Pada 16 Desember 2011 yang lalu, dalam Forum Riset Perbankan Syariah (FRPS) ke IV yang diselenggarakan di Bandung, analisa ini disampaikan dalam satu sesi bersamaan dengan pembahasan makalah-makalah para Finalis Terbaik yang terpilih dalam ajang riset ekonomi Islam bergengsi ini.
Sebagai pendahuluan, Irawan memaparkan poin-poin yang mesti dipahami terkait konten yang menjadi titik evaluasi DPS. DPS merupakan salah satu pembeda antara Bank Islam dan Bank Konvensional, dimana fungsi utamanya adalah mengawasi kegiatan operasional telah memenuhi shariah compliance (kesesuaian dengan aturan syariah) sebagai justifikasi penting dalam perbankan dan keuangan syariah. Beberapa organisasi keuangan Islam, seperti Accounting Auditing Organization for Islamic Financial Institution (AAOIFI) dan Islamic Financial Services Board (IFSB) telah menetapkan standar untuk tata kelola institusi keuangan Islam, salah satunya adalah Bank Syariah. Karena shariah compliance adalah sebuah fitur yang unik, teknik manajemen risiko konvensioanl mungkin tidak cukup untuk mengurangi risiko terkait syariah. Maka IFSB secara khusus menindak risiko ini dan menyediakan pedoman untuk mitigasinya.
Dalam praktek perbankan Islam saat ini, cara yang paling formal untuk memberikan informasi kepada para penggunanya mengenai shariah compliance adalah melalui laporan syariah yang merupakan komponen dari laporan tahunan (annual report). Abdel Karim (1990) menyatakan bahwa laopran syariah dapat dibenarkan atas dasar bahwa laporan tersebut : meyakinkan pembaca bahwa laporan keuangan bank telah sesuai dengan syariat Islam. Dan juga menyatakan apakah auditor DPS memiliki akses ke semua dokumen dan catatan yang mereka anggap dibutuhkan dalam melaksanakan tugas mereka. Laporan seperti itu dimaksudkan untuk memberikan kredibilitas atas informasi dalam laporan keuangan dari perspektif agama.
Jaminan seperti itu adalah untuk meningkatkan dan memperkuat kepercayaan para pemangku keperntingan dalam operasional bank Islam. Perlu diperhatikan bahwa dalam konteks ini, para pemangku kepentingan cukup besar dan terdiri dari semua orang dengan kepentingan dalam terwujudnya kesejahteraan bank Islam seperti karyawan, pelanggan, pemasok, pengawas, dan kaum muslimin secara keseluruhan.
Beberapa standar dan pedoman telah dibuat secara lokal maupun global. Dalam pembahasan laporan analisis ini, Irawan menggunakan standar dari AAOIFI yang dinilai lebih rinci dibanding standar yang dibuat oleh yang lain, seperti DSN-MUI. Walaupun begitu, Irawan menganggap standar ini masih kurang dalam beberapa aspek. Dalam standarnya untuk Dewan Pengawas Syariah tersebut, AAOIFI menguraikan unsur-unsur dasar yang harus tercantum dalam Laporan Syariah, yaitu :
  1. Judul
  2. Penerima
  3. Pembukaan atau Pengantar
  4. Paragraph singkat yang menjelaskan sifat dari pelaksanaan kerja
  5. Paragraph opini yang mengandung ungkapan pendapat atas kepatuhan lembaga keuangan Islam atas aturan dan prinsip syariat Islam
  6. Tanggal laporan, dan
  7. Tanda tangan anggota dewan pengawas syariah beserta tanggal.
Sampel dari riset untuk menganalisis laporan ini diambil dari 10 laporan tahunan dari bank-bank yang berbeda di Indonesia. Kesepuluh bank tersebut adalah Bank Muamalat Indonesia, bank Syariah Mandiri, Bank Mega Syariah, BRI Syariah, BCA Syariah, BNI Syariah, BJB Syariah, Bank Syariah Bukopin, Panin Bank Syariah dan Bank Victori Syariah. Laporan yang dihasilkan adalah laporan syariah tahun 2010.
Dalam makalah, Irawan membuat tabel perbandingan yang merinci poin-poin yang memenuhi standar atau tidak terhadap tiap bank. Kemudian, berdasarkan kelengkapannya, dikonversi dalam presentase kelengkapan standar. Hasilnya adalah sebagai berikut :
  1. Bank Muamalat Indonesia = 45,45 %
  2. Bank Syariah Mandiri = 81,82 %
  3. Bank Mega Syariah = 45,45 %
  4. BRI Syariah = 72,73 %
  5. BCA Syariah = 36,36 %
  6. BNI Syariah = 36,36 %
  7. BJB Syariah = 45,45 %
  8. Bank Syariah Bukopin = 54,55%
  9. Panin Bank Syariah = 54,55 %
  10. Bank Victori Syariah = 72,73 %
Dari hasil ini, terlihat hanya BSM yang berusah untuk mengikuti pedoman AAOIFI, walaupun tingkat kesesuaiannya masih 81, 82% dan belum mencapai 100%.
Dalam contoh laporan AAOIFI, ada empat hal yang harus dipertimbangkan dalam bagian pendapat :
  1. Kontrak, transaksi, dan kesepakatan yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Islam
  2. Alokasi keuntungan dan pembayaran kerugian yang berhubungan dengan rekening investasi
  3. Pendapat yang telah dihasilkan dari sumber atau cara yang dilarang oleh aturan dan prinsip-prinsip syariat Islam
  4. Perhitungan zakat.
Sedangkan dalam laporannya, DPS Bank Syariah cenderung sangat singkat dengan pernyatan umum, seperti : “Kami,…., dengan ini menkonfirmasi atas nama Komite, yang menurut pendapat kami, operasii Bank untuk tahun yang berakhir … telah dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah”
Jelas bahwa laporan semacam ini tidak dapat membantu para pemangku kepentingan bank-bank syariah untuk menilai bagaimana pemenuhan aturan-aturan syariah dalam pelaksanaan operasionalnya. Meskipun ada keyakinan bahwa anggota DPS sudah membuhi kualifikasi untuk menilai kesyariahannya, agar lebih meyakinkan, sebaiknya pendapat-pendapat mereka lebih dirinci agar dapat menjadi pembelajaran bersama.
Bahkan Nabi Ibrahim meminta kepada Allah untuk menunjukkan kepadanya bagaimana Allah bias menghidupkan kembali makhluk yang telah mati, meskipun ia adalah mukmin sejati. Kisah ini diceritakan dalam gaya bahasa yang kuat dalam Al-Qur’an di surat AlBaqarah ayat 260.
Di bagian kesimpulan, Irawan mencoba memberikan saran berupa model laporan syariah yang ia anggap lebih konsisten dengan tanggung jawab DPS dan bis merupakan suatu instrument yang baik untuk mengurangi risiko shariah non-compliance.

dari : Fimadani.com

| | Read More »